
Islam Menerapkan Toleransi dan Persatuan tanpa Moderasi Beragama
“Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu dalam urusan agama dan tidak mengusir kamu dari kampung halamanmu. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.” (Q.S Al-Mumtahanah : 8)
Islam adalah agama yang menuntut pemeluknya untuk berbuat baik dan berlaku adil kepada siapapun, selama orang tersebut tidak memerangi dalam urusan agama dan tidak pula mengusirnya. Islam melarang tindakan zalim, kekerasan apalagi sampai membunuh. Bahkan larangan membunuh orang non muslim yang bertetangga baik tercantum dalam hadis.
“ Barangsiapa membunuh seorang kafir dzimmi, maka dia tidak akan mencium bau surga. Padahal sebenarnya bau surga itu tercium dari perjalanan empat puluh tahun. ” (HR. An Nasa’i)
Islam sebagai sebuah agama yang sempurna telah mengatur problem ini amat sangat dulu daripada konsep moderasi beragama. Ajaran berbuat baik kepada sesama manusia telah banyak tercantum baik didalam al quran yang mulia maupun al hadis. Dengan begitu islam tidak butuh untuk dimodernisasi atau dimoderatkan. Sebab islam sendiri adalah agama yang toleran dengan batas toleran yang sudah ditentukan Allah. Yakni untukmu agamu, untukku agamaku. Non muslim dalam negara islam diberi kebebasan untuk beribadah menjalankan agamanya tanpa diganggu.
Demikianlah toleransi dalam islam. Sedangkan toleransi dalam konsep moderasi beragama sungguh kebablasan sebab mengusung konsep pluralisme yang menyamakan semua agama sama serta mengusung konsep kebebasan dalam berakidah. Padahal Rasul saw juga pernah ditawarkan oleh orang Quraisy Diriwayatkan bahwa beberapa orang kafir Quraisy- yaitu Walid bin Mughirah, Al-‘Ash bin Wail, Aswad Ibnul Muthallib dan Umayyah bin Khalaf- menemui Rasulullah saw. Dan berkata, “Wahai Muhammad, bagaimana jika kami beribadah kepada Tuhanmu dan kalian juga beribadah kepada Tuhan kami. Kita bertoleransi dalam segala permasalahan agama kita. Apabila ada sebagian ajaran agamamu yang lebih baik (menurut kami) dari tuntunan agama kami, maka kami akan amalkan hal itu. Sebalinya, apabila ada ajaran agama kami yang lebih baik dari tuntunan agamamu engkau juga harus mengamalkannya”.
Tawaran ini tentu saja ditolak oleh Rasul Saw dan Allah menurunkan surah al kafirun sebagai penolakan atas toleransi yang ditawarkan kaffir Quraisy. Jelaslah bahwa dalam hal bergaama dan beribadah kaum muslimin telah memiliki batasan dan tidak boleh keluar dari ketentuan Allah. Seperti mengucapkan selamat atas hari raya orang non muslim atau ikut hadir ke rumah ibadah non muslim. Namun muslim diwajibkan bersikap baik dalam bertetangga atau hidup bersama non muslim.
Islam Mampu Menyatukan
Bukan hanya sekedar teeori belaka. Praktek toleransi dan persatuan dalam islam betul-betul telah diwujudkan sepanjang 1.300 tahun yakni pada masa kejayaan islam. Catatan ini bahkan diabadikan oleh penulis-penulis barat dalam buku mereka. Sebuah ungkapan dan gambaran jujur dari siapa saja yang mengkajia sejarah dengan benar.
Misalnya T.W. Arnold (Inggris) dalam bukunya berjudul : The Preaching of Islam : A History of the Propagation of the Muslim Faith mengatakan bahwa “Perlakuan terhadap warga kristen oleh pemerintahan Khilafah Turki Utsmani -selama kurang lebih 200 tahun setelah penaklukan Yunan- telah memberikan contoh toleransi keyakinan yang sebelumnya tidak dikenal di daratan Eropa”
Dalam karyanya Arnold juga mengungkapkan bahwa warga kristen penduduk Syam justru lebih memilih untuk hidup dibawah kekuasaan islam dibandingkan kekuasaan kaisar romawi yang padahal beragama sama dengan mereka.
Ungkapan jujur juga datang dari Karen Amstrong dalam bukunya berjudul : A History of Jerusalem, One City, Three Faiths. Di bukunya ia mengungkapkan hubungan yang harmonis terjalin antara kaum muslimin, yahudi dan kristen di Andalusia (Spanyol). Ia bahkan menuliskan bahwa Yahudi menikmati zaman keemasan mereka di Andalusia. Padahal pada masa itu yahudi justru mengalami persekuu yang menyedihkan. Pembantaian dan pengusiran dari daratan eropa. Islamlah yang justru menerima mereka dan menyatukan mereka dengan penduduk beragama lainnya.
Demikianlah, penerapan islam tidak akan pernah melahirkan kedzholiman kepada siapapun. Sebaliknya justru melahirkan kedamaian dan persatuan. Allah telah menurunkan islam sebagai agama yang sempurna yang telah mengatur berbagai persoalan hidup manusia. Maka sudah selayaknyalah kaum muslim mengambil islam sebagai solusi bukan justru mengambil solusi dari kitab-kitab yang dibuat oleh barat. Wallahu’alam bishawwab.(*)