
Oleh: Nurul Aryani (Aktivis Dakwah)
Episode moderasi beragama masih belum menemui titik akhirnya. Pemerintah pada 25 September 2023 lalu menggulirkan Perpres 58/2023 yang bertujuan untuk mengoordinasikan, memantau, dan mengevaluasi penyelenggaraan penguatan moderasi beragama ditingkat kementerian/lembaga, pemerintah daerah provinsi dan kabupaten/kota. (Tirto, 30/09/2023)
Pada Juli 2023 lalu Kementerian Agama (Kemenag) juga meluncurkan program seribu Kampung Moderasi Beragama (KMB) yang tersebar di seluruh Indonesia. Wakil Menteri Agama (Wamenag) Saiful Rahmat Dasuki menyampaikan, pembentukan KMB merupakan langkah untuk membangun perdamaian ditengah kemajemukan, toleransi, serta menjaga kerukunan dan keberagaman di masyarakat. (kemenag.go.id 26/07/23).
Gencarnya Moderasi Beragama
kampanye moderasi beragama telah berjalan sejak Kemenag mengeluarkan Panduan Moderasi Beragama pada 2019. Moderasi beragama juga telah ditetapkan sebagai faktor penunjang pembangunan nasional yang termaktub dalam Perpres Nomor 18 tahun 2020 tentang Rencana Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Tahun 2020 – 2024 yaitu dalam agenda revolusi mental dan pembangunan kebudayaan.
Sejak saat itu moderasi beragama secara gencar dijalankan dengan berbagai program dan berbagai level masyarakat. Misalnya Pada 2022 Kemenag juga meluncurkan masjid pelopor moderasi beragama.
“Melalui Program MPMB, kita berharap terjadi revitalisasi peran masjid untuk semakin profesional pengelolaannya, kian moderat cara pandang dan paham keagamaan seluruh ekosistemnya, juga kian berdaya dan memberdayakan umatnya,” kata Kamaruddin,Dirjen Bimas Islam Kemenag. (Kemenag.go.id 14/11/22).
Pada September 2021, Kemenag merilis pedoman penguatan moderasi beragama dalam acara “Aksi Moderasi Beragama: Menyemai Nilai-Nilai Moderasi Beragama dalam Kebhinekaan” dan merilis berbagai pedoman pelaksanaan moderasi beragama untuk guru dan siswa.
Keseriusan moderasi beragama di Indonesia juga nampak dari besarnya Anggaran moderasi beragama lintas direktorat jenderal yang naik dari 400 miliyar di 2021 menjadi Rp.3,2 triliun untuk tahun 2022. (Republika, 28/09/2023).
Asal Moderasi Beragama
Sebagai muslim kita memang harusnya hidup rukun dan damai. Namun untuk hidup rukun dan damai terlalu berlebihan jika kita harus terus-menerus menggencarkan moderasi beragama dengan banyak sekali program dan dana besar ditengah banyaknya persoalan nyata dan besar bangsa kita. Misalnya korupsi, krisis moral, darurat kesehatan mental, kebakaran hutan, hingga polusi udara yang makin parah. Juga sejak dulu Indonesia walaupun ada beberapa konflik horizontal namun masih terbilang cukup damai dan rukun ditengah kemajemukan dan itu berjalan tanpa moderasi beragama yang justru bias dan multitafsir.
Moderasi beragama disisilain juga bukan hanya mengajak kepada gaya beragama yang damai dan rukun. Tapi moderasi beragama juga memiliki tujuan lebih spesifik lagi, untuk memahami hakikat moderasi beragama mari kita kembali kepada darimana moderasi beragama itu sendiri berasal.
Istilah moderasi beragama sendiri bukanlah istilah ilmiah dan bukan pula istilah islam karena tidak ditemukan dalam kitab-kitab ulama besar dan mahsyur dari kaum muslimin. Moderasi beragama yang secara garis besar mengusung gaya beragama yang moderat bahkan juga ditambahkan embel-embel pada islam yakni menjadi islam moderat adalah istilah politis yang juga memiliki tujuan-tujuan politik. untuk memahami persoalan ini tentu tidak cukup dari permukaan melainkan harus menelisik ke dalamnya.
Istilah muslim moderat dapat kita temukan pada dokumen yang diterbitkan oleh Rand Corporation -sebuah lembaga think tank (dapur pemikiran) dimana dana operasional berasal dari proyek-proyek penelitian pesanan militer- 16 tahun yang lalu. Rand menerbitkan dokumen berjudul “Building Moderate Muslim Networks” (membangun jaringan muslim moderat). Dokumen ini berisi panduan membangun apa yang mereka sebuat sebuah jaringan muslim yang moderat yang pro terhadap nilai-nilai barat yang bertentangan dengan islam agar dapat diterima dengan baik di negeri muslim. Ini adalah bagian dari upaya Amerika untuk dapat diterima. Mereka ingin muslim memiliki benang merah yang sama dengan pemikiran mereka.