Scroll untuk baca artikel
Opini

Moderasi Beragama Adakah di Dalam Islam ?

492
×

Moderasi Beragama Adakah di Dalam Islam ?

Sebarkan artikel ini
20231102 182717
Foto: Nurul Aryani.

Oleh: Nurul Aryani (Aktivis Dakwah)

Episode moderasi beragama masih belum menemui titik akhirnya. Pemerintah pada 25 September 2023 lalu menggulirkan Perpres 58/2023 yang bertujuan untuk mengoordinasikan, memantau, dan mengevaluasi penyelenggaraan penguatan moderasi beragama ditingkat kementerian/lembaga, pemerintah daerah provinsi dan kabupaten/kota. (Tirto, 30/09/2023)

Pada Juli 2023 lalu Kementerian Agama (Kemenag) juga meluncurkan program seribu Kampung Moderasi Beragama (KMB) yang tersebar di seluruh Indonesia. Wakil Menteri Agama (Wamenag) Saiful Rahmat Dasuki menyampaikan, pembentukan KMB merupakan langkah untuk membangun perdamaian ditengah kemajemukan, toleransi, serta menjaga kerukunan dan keberagaman di masyarakat. (kemenag.go.id 26/07/23).

Gencarnya Moderasi Beragama

kampanye moderasi beragama telah berjalan sejak Kemenag mengeluarkan Panduan Moderasi Beragama pada 2019. Moderasi beragama juga telah ditetapkan sebagai faktor penunjang pembangunan nasional yang termaktub dalam Perpres Nomor 18 tahun 2020 tentang Rencana Jangka Menengah Nasional  (RPJMN) Tahun 2020 – 2024 yaitu dalam agenda revolusi mental dan pembangunan kebudayaan.

Sejak saat itu moderasi beragama secara gencar dijalankan dengan berbagai program dan berbagai level masyarakat. Misalnya Pada 2022 Kemenag juga meluncurkan masjid pelopor moderasi beragama.

“Melalui Program MPMB, kita berharap terjadi revitalisasi peran masjid untuk semakin profesional pengelolaannya, kian moderat cara pandang dan paham keagamaan seluruh ekosistemnya, juga kian berdaya dan memberdayakan umatnya,” kata Kamaruddin,Dirjen Bimas Islam Kemenag. (Kemenag.go.id 14/11/22).

Pada September 2021, Kemenag merilis pedoman penguatan moderasi beragama dalam acara “Aksi Moderasi Beragama: Menyemai Nilai-Nilai Moderasi Beragama dalam Kebhinekaan” dan merilis berbagai pedoman pelaksanaan moderasi beragama untuk guru dan siswa.

Keseriusan moderasi beragama di Indonesia juga nampak dari besarnya Anggaran moderasi beragama lintas direktorat jenderal yang naik dari 400 miliyar di 2021 menjadi Rp.3,2 triliun untuk tahun 2022. (Republika, 28/09/2023).

Asal Moderasi Beragama

Sebagai muslim kita memang harusnya hidup rukun dan damai. Namun untuk hidup rukun dan damai terlalu berlebihan jika kita harus terus-menerus menggencarkan moderasi beragama dengan banyak sekali program dan dana besar ditengah banyaknya persoalan nyata dan besar bangsa kita. Misalnya korupsi, krisis moral, darurat kesehatan mental, kebakaran hutan, hingga polusi udara yang makin parah. Juga sejak dulu Indonesia walaupun ada beberapa konflik horizontal namun masih terbilang cukup damai dan rukun ditengah kemajemukan dan itu berjalan tanpa moderasi beragama yang justru bias dan multitafsir.

Moderasi beragama disisilain juga bukan hanya mengajak kepada gaya beragama yang damai dan rukun. Tapi moderasi beragama juga memiliki tujuan lebih spesifik lagi, untuk memahami hakikat moderasi beragama mari kita kembali kepada darimana moderasi beragama itu sendiri berasal.

Istilah moderasi beragama sendiri bukanlah istilah ilmiah dan bukan pula istilah islam karena tidak ditemukan dalam kitab-kitab ulama besar dan mahsyur dari kaum muslimin. Moderasi beragama yang secara garis besar mengusung gaya beragama yang moderat bahkan juga ditambahkan embel-embel pada islam yakni menjadi islam moderat adalah istilah politis yang juga memiliki tujuan-tujuan politik. untuk memahami persoalan ini tentu tidak cukup dari permukaan melainkan harus menelisik ke dalamnya.

Istilah muslim moderat dapat kita temukan pada dokumen yang diterbitkan oleh Rand Corporation -sebuah lembaga think tank (dapur pemikiran) dimana dana operasional berasal dari proyek-proyek penelitian pesanan militer- 16 tahun yang lalu. Rand menerbitkan dokumen berjudul “Building Moderate Muslim Networks” (membangun jaringan muslim moderat). Dokumen ini berisi panduan membangun apa yang mereka sebuat sebuah jaringan muslim yang moderat yang pro terhadap nilai-nilai barat yang bertentangan dengan islam agar dapat diterima dengan baik di negeri muslim. Ini adalah bagian dari upaya Amerika untuk dapat diterima. Mereka ingin muslim memiliki benang merah yang sama dengan pemikiran mereka.

Dalam dokumen yang dikeluarkan RAND corp juga dipetakan kaum muslim berdasarkan pemahaman dan sikap mereka dan dibenturkan antara satu dengan lainnya. Demikian di negeri muslim akan lumrah jika islam moderat masuk maka akan bersamaan juga dengan sikap saling tuduh menuduh, curiga dan ketegangan antara kelompok islam. Karena demikianlah yang diinginkan Amerika. Ini juga menunjukkan fakta bahwa tidak semua kelompok muslim mengusung dan ikut andil dalam program ini, sebagian lain diduga justru mendapat tuduhan tidak moderat atau bahkan tidak toleran, islam garis keras, dan lain sebagainya.

Keinginan Jujur

Keinginan Amerika dalam membangun jaringan moderat atau moderisasi beragama di negeri kaum muslimin juga secara jujur diucapkan pada tahun 2004 oleh Daniel Pipes, pendiri Middle East Forum yang juga dikenal sebagai tokoh sentral industri Islamophobia menulis sebuah artikel berjudul “Rand Corporation and Fixing Islam”. Dalam tulisannya tersebut, Pipes mengaku senang. Cita-cita besarnya untuk “mengotak-atik” ajaran Islam berhasil disusun sebagai sebuah strategi besar oleh Cheryl Benard (salah satu penyusun dokumen “Membangun Jaringan Muslim Moderat”)

“Tujuan jangka pendek dari perang ini haruslah untuk menghancurkan Islam militan, namun tujuan jangka panjang dari perang ini adalah modernisasi Islam.” (Daniel Pipes).

Modernisasi islam adalah sebuah misi besar bagi Amerika untuk memberikan opsi lain dalam beragama, yakni lebih moderat, lebih terbuka akan nilai-nilai yang bertentangan dengan islam. Ini dialurkan begitu rapih oleh Amerika melalui lembaga-lembaga mereka seperti PBB untuk dijalankan oleh negara-negara muslim dengan penuh keseriusan.

Kenapa Moderasi Harus Dipersoalkan ?

Demikian jelaslah bahwa moderasi beragama yang berasal dari luar islam bukanlah tuduhan tanpa landasan. Kita bisa menemukan dalam banyak literatur yang menjelaskan secara gamblang atau bahkan pidato “pejabat” Amerika yang dengan jujur mengakui keinginan mereka kepada Islam. Beberapa hal mendasar kenapa moderasi dipersoalkan adalah :

Pertama, moderasi agama menimbulkan ketegangan dan jarak antar kelompok islam. Adanya politik belah bambu di tubuh kaum muslimin, dimana yang satu diangkat sementara yang lainnya diinjak. Rand corporation dalam dokumen mereka yang dirilis 2007 lalu telah membagi muslim menjadi empat kategori besar yakni fundamentalis, tradisonalis, modernis, dan sekularis.

Rand corporation juga menetapkan strategi untuk mengadu domba satu kelompok dengan kelompok lainnya, dimana barat memberikan dukungan dan sanjungan kepada kelompok yang mau mengambil ide mereka dan menyerang kelompok lain yang tidak mau bekerjasama menjalankan keinginan mereka. Dalam dokumen Rand Corp, Amerika juga dirancang untuk mendekatkandiri dengan kelompok yang potensial di negeri kaum muslimin yang akan menjadi partner mereka dalam menyebarkan ide-ide islam moderat, juga sebagai tangan mereka untuk menyikapi kelompok islam yang mereka petakan menolak ide ini.

Demikian, ketegangan antar kaum muslimin akan meningkat, rawan terjadi saling tuduh dan saling tuding, bahkan persekusi terhadap kelompok lain yang mereka anggap tidak modern atau tidak bersikap moderat. Jika demikian persatuan akan semakin jauh, padahal disatu sisi kaum muslimin diminta toleran terhadap agama lain sementara terhadap kelompok atau ormas dari agama islam sendiri malah bersikap tidak toleran akan perbedaan pandangan. Sungguh, muslim sejati tidak akan mau memusuhi muslim lain. Karena islam mengajarkan untuk saling menyayangi sesama muslim bahkan diibaratkan satu tubuh. Memecah belah bukanlah sikap seorang muslim yang baik.

Kedua, menjauhkan muslim dari islam yang dibawa Rasulullah Saw., dan menerima nilai bertentangan dengan islam. Islam moderat bukan hanya sekedar gaya hidup rukun dan toleran. Muslim moderat yang diinginkan adalah mereka yang menerima dan mendukung nilai-nilai demokrasi seperti hak asasi manusia (HAM), kesetaraan jenis, kebebasan beragama, pluralisme, hukum sekular, dan menolak terorisme serta kekerasan (Angel Rabasa dkk, Building Moderate Muslim Networks (Santa Monica: RAND Center for Middle East Public Policy, 2007) hlm. 66).

Gambaran Orang Islam moderat secara rinci adalah mereka yang menerima pandangan para feminis muslim (semisal Fatema Mernissi, Asma Barlas, Amina Wadud) serta terbuka kepada paham pluralisme agama dan dialog antar mereka juga mau membela hak-hak perempuan dalam soal perkawinan, seks, kesehatan (khitan, kontrasepsi, aborsi, lesbianisme), ekonomi dan politik.

Dari ciri muslim moderat diatas banyak sekali yang justru bertentangan dengan islam yang dibawa Rasul Saw. Pluralisme agama menyamakan semua agama sama, padahal setiap agama berbeda dalam menganggap Tuhan dan berbeda pula ajarannya. Menganggap semua agama sama dapat merusak aqidah muslim. Muslim moderat juga diharuskan lebih terbuka terkait permasalahan seks yang diharamkan seperti aborsi bahkan lesbianisme yang jelas sekali tidak dibolehkan islam. Kebebasan beragama juga tidak dikenal oleh islam. Setiap muslim terikat dengan aturan Allah, hidupnya berstandar syariat islam. Memahami hakikat diri sebagai hamba Allah. Jelaslah apa yang dilontarkan barat terkait profil muslim moderat sangatlah berbahaya bagi seorang muslim. Karena dapat menjerumuskannya pada ajaran barat yang padahal mereka bukanlah muslim dan tidak belajar islam. Mereka hanya merancang moderasi beragama demi tujuan politis mereka sebagai penganut dari ideologi sekuler-liberal yang menganggap ideologi islam sebagai rival mereka yang harus mereka tundukkan, salah satunya dengan cara moderasi beragama yang diharapkan lebih diterima kaum muslimin setelah sebelumnya mereka melakukan strategi war on terorism yang gagal dan tertolak sebab telah secara brutal menuduh islam dan negeri kaum muslimin sebagai tempat terorisme.

Islam Menerapkan Toleransi dan Persatuan tanpa Moderasi Beragama

“Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu dalam urusan agama dan tidak mengusir kamu dari kampung halamanmu. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.” (Q.S Al-Mumtahanah : 8)

Islam adalah agama yang menuntut pemeluknya untuk berbuat baik dan berlaku adil kepada siapapun, selama orang tersebut tidak memerangi dalam urusan agama dan tidak pula mengusirnya. Islam melarang tindakan zalim, kekerasan apalagi sampai membunuh. Bahkan larangan membunuh orang non muslim yang bertetangga baik tercantum dalam hadis.

“ Barangsiapa membunuh seorang kafir dzimmi, maka dia tidak akan mencium bau surga. Padahal sebenarnya bau surga itu tercium dari perjalanan empat puluh tahun. ” (HR. An Nasa’i)

Islam sebagai sebuah agama yang sempurna telah mengatur problem ini amat sangat dulu daripada konsep moderasi beragama. Ajaran berbuat baik kepada sesama manusia telah banyak tercantum baik didalam al quran yang mulia maupun al hadis. Dengan begitu islam tidak butuh untuk dimodernisasi atau dimoderatkan. Sebab islam sendiri adalah agama yang toleran dengan batas toleran yang sudah ditentukan Allah. Yakni untukmu agamu, untukku agamaku. Non muslim dalam negara islam diberi kebebasan untuk beribadah menjalankan agamanya tanpa diganggu.

Demikianlah toleransi dalam islam. Sedangkan toleransi dalam konsep moderasi beragama sungguh kebablasan sebab mengusung konsep pluralisme yang menyamakan semua agama sama serta mengusung konsep kebebasan dalam berakidah. Padahal Rasul saw juga pernah ditawarkan oleh orang Quraisy Diriwayatkan bahwa beberapa orang kafir Quraisy- yaitu Walid bin Mughirah, Al-‘Ash bin Wail, Aswad Ibnul Muthallib dan Umayyah bin Khalaf- menemui Rasulullah saw. Dan berkata, “Wahai Muhammad, bagaimana jika kami beribadah kepada Tuhanmu dan kalian juga beribadah kepada Tuhan kami. Kita bertoleransi dalam segala permasalahan agama kita. Apabila ada sebagian ajaran agamamu yang lebih baik (menurut kami) dari tuntunan agama kami, maka kami akan amalkan hal itu. Sebalinya, apabila ada ajaran agama kami yang lebih baik dari tuntunan agamamu engkau juga harus mengamalkannya”.

Tawaran ini tentu saja ditolak oleh Rasul Saw dan Allah menurunkan surah al kafirun sebagai penolakan atas toleransi yang ditawarkan kaffir Quraisy. Jelaslah bahwa dalam hal bergaama dan beribadah kaum muslimin telah memiliki batasan dan tidak boleh keluar dari ketentuan Allah. Seperti mengucapkan selamat atas hari raya orang non muslim atau ikut hadir ke rumah ibadah non muslim. Namun muslim diwajibkan bersikap baik dalam bertetangga atau hidup bersama non muslim.

Islam Mampu Menyatukan 

Bukan hanya sekedar teeori belaka. Praktek toleransi dan persatuan dalam islam betul-betul telah diwujudkan sepanjang 1.300 tahun yakni pada masa kejayaan islam. Catatan ini bahkan diabadikan oleh penulis-penulis barat dalam buku mereka. Sebuah ungkapan dan gambaran jujur dari siapa saja yang mengkajia sejarah dengan benar.

Misalnya T.W. Arnold (Inggris) dalam bukunya berjudul : The Preaching of Islam : A History of the Propagation of the Muslim Faith mengatakan bahwa “Perlakuan terhadap warga kristen oleh pemerintahan Khilafah Turki Utsmani -selama kurang lebih 200 tahun setelah penaklukan Yunan- telah memberikan contoh toleransi keyakinan yang sebelumnya tidak dikenal di daratan Eropa”

Dalam karyanya Arnold juga mengungkapkan bahwa warga kristen penduduk Syam justru lebih memilih untuk hidup dibawah kekuasaan islam dibandingkan kekuasaan kaisar romawi yang padahal beragama sama dengan mereka.

Ungkapan jujur juga datang dari Karen Amstrong dalam bukunya berjudul : A History of Jerusalem, One City, Three Faiths. Di bukunya ia mengungkapkan hubungan yang harmonis terjalin antara kaum muslimin, yahudi dan kristen di Andalusia (Spanyol). Ia bahkan menuliskan bahwa Yahudi menikmati zaman keemasan mereka di Andalusia. Padahal pada masa itu yahudi justru mengalami persekuu yang menyedihkan. Pembantaian dan pengusiran dari daratan eropa. Islamlah yang justru menerima mereka dan menyatukan mereka dengan penduduk beragama lainnya.

Demikianlah, penerapan islam tidak akan pernah melahirkan kedzholiman kepada siapapun. Sebaliknya justru melahirkan kedamaian dan persatuan. Allah telah menurunkan islam sebagai agama yang sempurna yang telah mengatur berbagai persoalan hidup manusia. Maka sudah selayaknyalah kaum muslim mengambil islam sebagai solusi bukan justru mengambil solusi dari kitab-kitab yang dibuat oleh barat. Wallahu’alam bishawwab.(*)

Home
Hot
Redaksi
Cari
Ke Atas