Scroll untuk baca artikel
Opini

Pernikahan Dini di Babel Nomor 1

220
×

Pernikahan Dini di Babel Nomor 1

Sebarkan artikel ini
20230515 190158
Foto: Dera Desma Putri.

Dera Desma Putri

Mahasiswa Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Bangka Belitung

 

Pernikahan merupakan sebuah hal yang memang akan ditempuh dalam kehidupan jika sudah memiliki kesiapan secara fisik, psikis maupun ekonomi namun berbeda dengan pernikahan di usia muda atau dikenal dengan pernikahan dini, pernikahan di usia dini sering kali terjadi karena banyak faktor baik faktor internal maupun eksternal. Pernikahan dini merupakan pernikahan yang dilakukan secara sah laki-laki dan perempuan namun keduanya belum memiliki kematangan terutama dari segi umur, tak heran jika banyak perceraian yang terjadi apalagi permasalahan ekonomi karena memang kebanyakan di usia muda ketidaksanggupan secara ekonomi menjadi faktor utama yang dirasakan oleh pasutri muda.

Bangka Belitung ternyata menjadi salah satu provinsi di Indonesia yang memiliki angka tinggi terkait pernikahan dini, menurut Badan Pusat Statistik Indonesia angka pernikahan dini di Bangka Belitung dari tahun ke tahun mengalami kenaikan mulai dari tahun 2018 sebanyak 14,22 persen berada pada urutan ke 8 dari 34 provinsi, tahun 2019 naik menjadi 15,48 persen urutan ke 11 dari 34 provinsi, kemudian pada tahun 2020 angka pernikahan dini di Bangka Belitung menduduki posisi ke 1 dari 34 provinsi yang mencapai angka 14,05 persen dan pada tahun 2021 turun menjadi 9,23 persen namun masih di atas rata-rata nasional.

Faktor utama yang menyebabkan pernikahan dini terjadi yaitu rendahnya tingkat ekonomi, rendahnya tingkat ekonomi membuat banyak anak-anak yang harus putus sekolah dan merasa bahwa pendidikan tidak terlalu penting apalagi melihat lingkungan sekitar mereka yang banyak sekali melakukan pernikahan dini. Selain faktor ekonomi ada juga faktor eksternal yaitu pergaulannya yang terlalu bebas hingga menjerumuskan ke hal-hal yang tidak baik seperti seks bebas, narkotika, hingga meminum minuman keras, pergaulan yang bebas tidak lepas dari peran orangtua yang kurang optimal sehingga anak-anak mereka lepas dari kendali mereka. Hal inilah yang membuat maraknya pernikahan dini di Bangka Belitung, usia ideal menikah menurut Badan Kependudukan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) laki-laki berusia 25 tahun dan perempuan berusia 21 tahun, namun faktanya masih banyak masyarakat usia dibawah 20 tahun menikah walaupun belum memiliki kesiapan baik mental, finansial, reproduksi, sosial, dan moral.

Untuk mengatasi pernikahan dini terjadi semakin banyak di Bangka Belitung BKKBN memberikan edukasi di Bangka Barat untuk mencegah pernikahan dini, sosialisasi ini dilakukan untuk membuat masyarakat sadar akan dampak yang ditimbulkan oleh pernikahan dini, tidak sedikit ibu muda yang belum memiliki kesiapan secara reproduksi kesulitan dalam melahirkan hingga meninggal. Edukasi penting dilakukan guna meningkatkan kualitas generasi muda yang cerah dengan cara meningkatkan kualitas pendidikan, mengapa demikian? Karena pendidikan merupakan hal utama dalam pembentukan karakter dan pola pikir.

Mengaplikasikan peran orang tua terhadap anak secara optimal

Peran orang tua memang sangat penting sebagai proses tumbuh kembang anak, didikan orang tua menjadi hal yang akan berguna terhadap dunia anak kedepannya kebanyakan pernikahan dini terjadi karena kurangnya peran serta dukungan orang tua, namun tidak sedikit orang tua yang tidak menyadari hal tersebut. Orang tua menjadi sumber dari tumbuh kembang anak oleh karena itu orangtua harus bertanggung jawab memberikan perhatian ekstra terhadap anak-anaknya.

Banyak anak yang menganggap orang tuanya sebagai panutannya namun tidak sedikit juga orang tua yang menjadi patah hati pertama bagi anak-anak mereka seperti perceraian yang terjadi, jika banyak perceraian yang terjadi maka banyak juga anak yang harus kehilangan peran orang tuanya apalagi jika anak sudah beranjak ke fase remaja pastinya anak akan mencari pelarian ke dunia luar untuk mengisi hari-harinya, di masa remaja memang yang dibutuhkan adalah komunikasi namun banyak orang tua yang tidak menganggap hal itu penting padahal saat memasuki usia remaja sangat rentan terpengaruh terhadap dunia luar.

Pada fase anak-anak biasanya mulai memahami tentang perbedaan dan mulai beradaptasi di lingkungannya, oleh sebab itu peran orang tua tidak hanya di lingkungan internal saja melainkan lingkungan eksternal juga harus ekstra, pada fase remaja anak sudah mulai menunjukkan perubahan baik fisik, emosional dan sosial. Oleh sebab itu di fase remaja anak cenderung tidak ingin lagi melibatkan orang tuanya anak juga cenderung ingin melakukan semua hal sendiri dan tidak lagi merasa harus seperti anak kecil yang bergantung kepada orang tuanya, akibatnya peran orang tua tentu kurang optimal jika hal tersebut terjadi maka dari itu di fase remaja seperti ini komunikasi antara orang tua dan anak akan membuat anak menjadi lebih terbuka dan orang tua pun harus bisa selalu membangun kepercayaan terhadap anaknya. Orang tua harus memberi pemahaman kepada anaknya terutama masalah lingkungan luar yang menjadi faktor utama penyebab banyaknya pernikahan usia dini yang terjadi di Bangka Belitung.

Tidak sedikit kasus yang sudah terjadi akibat kurangnya pemahaman anak terhadap dunia luar dan kurangnya peran orang tua terhadap anaknya, seperti kasus penggrebekkan delapan remaja pria dan empat wanita putus sekolah sedang melakukan pesta miras dan seks. Hal demikian lah yang akan membuat banyaknya pernikahan dini di Bangka Belitung, selain melakukan sosialisasi dari pihak luar orangtua juga wajib selalu mencari informasi tentang pernikahan di usia dini, faktor penyebabnya serta cara menanggulanginya.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa tingginya angka pernikahan di usia dini terjadi karena faktor internal yaitu dari peran orang tua yang kurang optimal membuat banyak anak-anak merasa tidak dekat dengan orangtuanya sehingga membuat anak cenderung tertutup, ketidakterbukaan anak kepada orang tuanya inilah membuat anak lebih rentan terhadap dunia luar yang bebas. Bangka Belitung pernah menduduki urutan ke 1 dari 34 provinsi pada tahun 2020 karena pada fase remaja banyak anak yang dibiarkan pergaulannya bebas, lingkungan bebas menjadi faktor eksternal dari penyebab terjadinya pernikahan di usia dini, untuk menanggulanginya diharapkan peran orang tua secara optimal dari fase dini hingga fase remaja karena saat anak memasuki fase-fase tersebut anak rentan sekali terpengaruh terhadap dunia luar apalagi saat anak sudah memasuki fase remaja.(*)