
Selama periode tersebut, kerja sama melalui PPS Alobi disebut telah mendukung pengembalian lebih dari 8.000 ekor satwa ke habitatnya.
“Untuk pusat penyelamatan satwa kita bekerja sama dengan PT Timah itu lebih dari tujuh tahun yang lalu. Kita telah sama-sama bersama PT Timah mengembalikan lebih dari delapan ribu ekor satwa ke habitatnya,” kata Langka.
Di tengah ancaman karhutla, kerja sama tersebut kembali diperkuat. ALOBI juga terus berkoordinasi dengan PT Timah, BKSDA Sumatera Selatan dan pemangku kepentingan lainnya dalam menangani satwa yang terdampak.
Langka menilai penyelamatan satwa tidak hanya berbicara tentang evakuasi setelah kebakaran terjadi. Persoalan yang lebih besar adalah memastikan satwa tetap memiliki habitat yang aman dan cukup untuk bertahan hidup.
Menurutnya, kondisi Bangka Belitung sebagai wilayah kepulauan dengan habitat yang terbatas membuat keberlanjutan ekosistem menjadi semakin penting, terutama bagi satwa endemik seperti kukang Bangka.
“PT Timah sangat berkontribusi dalam penyelamatan satwa liar Bangka Belitung melalui Alobi Foundation sebagai mitranya. Semoga ke depannya akan terus bersama-sama menjaga kelestarian kekayaan biodiversitas Bangka Belitung,” katanya.
Ia pun mengingatkan bahwa kerusakan habitat bukan persoalan yang dapat diselesaikan hanya dengan menyelamatkan satwa satu per satu.
“Kalau mengutip dari teorinya, kita yang telah merusaknya, tetapi kitalah yang bisa memperbaikinya,” tutupnya.(*)
Sumber: PT Timah Tbk