
Persoalan bermula saat keluarga Hengki di Desa Kulur bermaksud mengembalikan posisi KWh meter ke tempat semula setelah proses pembangunan rumah selesai.
Sebelumnya, KWh tersebut memang sempat digeser sementara karena adanya pengerjaan bangunan.
Kades yang biasa disapa Ronie itu mengaku sudah menyampaikan data lengkap, termasuk foto KWh dan nomor kontak warga, kepada Kepala PLN Koba. Namun, hingga hampir seminggu, pihak warga melaporkan belum ada petugas yang menghubungi maupun datang ke lokasi.
“Saya kaget, kok PLN Koba sekarang seperti ini. Tidak ada konfirmasi balik ke kami mengenai kendala di lapangan, padahal selama ini koordinasi antara Pemdes se-Bangka Tengah dengan PLN sangat baik,” sesalnya.