
Beberapa penelitian membuktikan jika mengisi baterai hingga 100%, dan membiarkan suhunya naik 25 derajat Celcius. Maka kualitas baterai akan turun drastis sebanyak 20% dalam waktu tiga bulan.
Sementara baterai yang overheating hingga 60 derajat Celcius kapasitasnya bisa berkurang 40%. Dampak baterai laptop overcharger ini tentu sangat merugikan pengguna.
Ahli komputer justru menyarankan untuk melakukan pengisian baterai sampai 75 % saja. Kemudian melakukan pengisian kembali saat baterai tersisa 20 atau 25%. Langkah tersebut bisa memaksimalkan kinerja laptop, serta meminimalisir kerusakan pada baterai lithium-ion.
Tak hanya memicu overheat dan menurunkan kualitasnya, baterai laptop overcharger juga mempengaruhi komponen lain. Pasalnya, suhu tinggi yang terperangkap di dalam perangkat menjadi sulit keluar.
Jika terjadi secara terus menerus, maka udara panas tersebut justru berputar balik ke dalam laptop. Alhasil komponen-komponen penting lainnya menjadi ikut terserang, dan tidak mampu berfungsi secara maksimal.
Melihat sejumlah dampak di atas, tentunya membuat Anda harus lebih bijak melakukan pengisian daya laptop. Sehingga kesehatan baterainya tetap terjaga, dan perangkat laptop mampu bekerja sebagaimana mestinya. Supaya lebih efektif, silahkan mengikuti langkah-langkah mudahnya berikut ini.
Perlu Anda ketahui, memakai perangkat elektronik seperti laptop tanpa terkontrol bisa berpengaruh pada kesehatan baterainya. Karena itu, jika ingin baterai laptop lebih awet dan terawat upayakan menggunakan secara teratur. Berikan waktu sejenak untuk rehat sebelum akhirnya dipakai kembali.
Tak hanya baterai laptop overcharger saja yang bisa memicu dampak buruk. Namun, membiarkan baterai laptop kosong sampai mati juga akan menimbulkan masalah.