
Saat ini, penelitian difokuskan pada proses domestikasi dan pemijahan Betta burdigala menggunakan stimulasi hormon. Metode tersebut diharapkan mampu menghasilkan benih yang nantinya dapat digunakan dalam program restocking atau pelepasliaran kembali ke habitat aslinya.
“Kalau penelitian ini berhasil, hasilnya dapat dimanfaatkan untuk kegiatan restocking sehingga populasi ikan endemik ini bisa kembali meningkat,” ujarnya.
Helmizuryani menjelaskan Indonesia memiliki sekitar 49 spesies ikan cupang (Betta) dari total 86 spesies yang ada di dunia. Sejumlah di antaranya merupakan spesies endemik Bangka Belitung yang memiliki nilai ekologis sekaligus ekonomi.
Namun, keberadaan ikan-ikan tersebut terus terancam akibat kerusakan habitat, alih fungsi lahan menjadi perkebunan, hingga pencemaran lingkungan.
“Kalau upaya konservasi tidak dilakukan mulai sekarang, tinggal menunggu waktu saja ikan-ikan endemik ini akan punah. Kami mengapresiasi peran PT Timah yang sudah memulai mendukung penelitian ini,” tegasnya.
Sementara itu, Peneliti Pusat Riset Zoologi Terapan BRIN, Boby Muslimin, mengatakan Betta burdigala telah masuk dalam kategori Critically Endangered berdasarkan IUCN Red List sehingga membutuhkan langkah konservasi secara terpadu.