
“Kita gaungkan pariwisata, tapi ekosistem dan alam kita hancurkan. Itukan bertentangan. Belum lagi nanti gesekan dan dampaknya terhadap nelayan dan lingkungan. Jelas bertentangan dengan pariwisata lah,” ungkapnya.
Erwin mengatakan, jika PIP akan beroperasi di Beriga, maka akan menambah rusaknya terumbu karang, ekosistem laut dan tercemarnya laut akibat limbah Kapal Isap Produksi (KIP) yang ada nanti.
“Kalau setiap hari misalnya KIP atau PIP ini menghasilkan 2000 meter kubik limbah perhari, maka sudah pasti hancurnya terumbu karang dan rusaknya ekosistemnya laut yang akan mengurangi produksi ikan kita di Bangka Tengah ini, ” ujarnya.
Erwin menyebutkan, peran pemerintah daerah dalam membuka puang investasi dan usaha agar masyarakat tidak lagi bergantung dengan komoditi timah.