
Dengan demikian jelaslah solusi evakuasi warga Gaza haruslah ditolak oleh kaum muslimin. Kita juga harus secara bersama-sama dan massif melakukan seruan atas solusi hakiki yaitu jihad dan khilafah. Zionis Yahudi tidak lagi pada posisi untuk dilakukan perdamaian dan negosiasi, yang merela tahu hanyalah bahsa perang. Dengan demikian solusi melawan adalah piliham yang paling logis melawan kekejaman zionis.
Dengan tegaknya khilafah maka akan ada yang memberi komando dam mengerahkan tentara muslim untuk berjihad melawan zionis. Sebab kecil harapan untuk berharap pada negara nation state hari ini yang mayoritas tunduk pada Amerika.
Negeri muslim sudah seharusnya memiliki agenda sendiri bukan justru terus mengikuti skenario para penjajah. Sebagai ummat terbaik yang Allah ciptakan sudah seharusnya kaum muslimin mengambil peran perubahan.
“Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman, namun kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik.” (TQS. Ali-Imran: 110).
Selain itu juga karena Allah akan memenangkan kita atas orang-orang kaffir. Sebagaimana firman Allah Swt. Dalam surah An-Nur ayat 55:
“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Aku. Dan barang siapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.”
Al Hafidz Ibnu Katsir dalam Tafsirnya menyatakan: “Ini adalah janji dari Allah swt kepada Rasulullah saw, bahwasanya Dia akan menjadikan umatnya (umat nabi Muhammad saw) sebagai khulafa` al-ardl, yakni: pemimpin-pemimpin manusia dan penguasa atas mereka; dan dengan mereka negeri-negeri diperbaiki dan seluruh manusia tunduk kepada mereka,…
Demikianlah ummat ini diciptakan bukan untuk tunduk kepada kaffir penjajah melainkan untuk memimpin dunia. Terbukti sepanjang sejarah ummat islam ketika menjadi negara adidaya dunia mampu mempertahankan tanah Palestina. Ummat islam bersatu dalam satu kepemimpinan umum yakni Khilafah menjadikan negara islam sebagai negara dengan militer tidak terkalahkan dan punya posisi tawar di kancah internasional. Sebut saja ketika Zionis Yahudi ingin membeli tanah Palestina dan mendatangi Khalifah Abdul Hamid II Padahal, saat itu beliau mendapat tawaran fantastis dari pihak Yahudi, yakni sogokan emas senilai 150 juta poundsterling khusus untuk sultan yang jika dihitung berdasarkan kurs rupiah hari ini 19.500 maka, emas itu setara dengan 2,925 triliun rupiah. Zionis juga menawarkan membayar semua utang Utsmaniyyah hingga 33 juta poundsterling, membangun kapal induk untuk pemerintah dengan biaya 120 juta frank, memberi pinjaman 5 juta poundsterling tanpa bunga, hingga membangun Universitas Utsmaniyyah di Palestina.
Namun, semua tawaran duniawi itu mentah-mentah di tolak oleh Khalifah Abdul Hamid II, ucapan beliau yang mahsyur yakni: “Aku tidak akan melepaskan walaupun segenggam tanah ini (Palestina) karena ia bukan milikku. Tanah itu adalah hak umat Islam. Umat Islam telah berjihad demi kepentingan tanah ini dan mereka telah menyiraminya dengan darah mereka, jika Daulah Khilafah Utsmaniyah dimusnahkan pada suatu hari, maka mereka boleh mengambil Palestina tanpa membayar harganya. Akan tetapi, sementara aku masih hidup, aku lebih rela menusukkan pedang ke tubuhku daripada melihat tanah Palestina dikhianati dan dipisahkan dari Daulah Islamiyah….” (Narasipost, 19/12/24)
Demikianlah penguasa pada masa kekhilafahan islam betul-betul memahami bahwa tanah Palestina adalah tanah ummat islam yang telah dibebaskan dengan jihad kaum muslimin. Namun ketika Khilafah runtuh pada 1924, secara licil pada 1948 zionis mengklaim tanah Palestina yang didukung Amerika melalui lembaganya yakni PBB. Jelaslah, bahwa hanya dengan persatuan yang hakiki yakni dengan mengambil posisi negara adidaya dunia maka kaum muslimin mampu bersaing secara face to face kepada Amerika dan zionis. Peran inilah yang harusnya dilakukan negara-negara mayoritas muslim.
Semua solusi untuk membebaskan Palestina tidak bisa disuarakan individu semata melainkan bersama-sama. Butuh peran partai islam ideologis yang bersama dengan ummat untuk meniti jalan menuju kebangkitan islam. Partai ideologis yang aktif membina ummat agar muncul kesadaran politik islam yang benar. Dengan demikian ummat tidaklah kebingungan dalam menentukan solusi hakiki untuk saudara mereka di Palestina.