
“Kami PT Bersahaja berterimakasih dan sangat mengapresiasi karena sudah diberikan kesempatan untuk turut serta dalam pengembangan teknologi dalam negeri, khususnya untuk LTJ ini. Semoga program ini berjalan lancar dan tanpa kendala, sehingga NKRI nantinya akan punya bargaining kuat dalam sektor energi dan mineral” kata Arbi Leo.
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sangat berharap realisasi PKS ini dapat berjalan dalam waktu dekat dan diselesaikan agar Indonesia dapat menikmati hasil dari teknologi dalam negeri dengan Sumber Daya Alam (SDA) Tanah Air.
“Mudah-mudahan ini akan berjalan lancar, walaupun diperlukan komunikasi yang lebih intense karena melibatkan enam pihak. Ini sebuah kerja sama yang luar biasa dan saya pikir melakukan riset dan hilirisasi monazite ini bisa menjadi sesuatu yang menjadi lebih bermanfaat bagi bangsa dan negara,” jelas Hendri.
Sementara itu, Asisten Deputi Pengelolaan Sampah dan Limbah Kemenkomarves Rofi Alhanif mengatakan, PKS ini merupakan sejarah baru bagi Indonesia dimana antara Pemerintah, Badan Usaha Milik Negara (BUMN), dan Swasta dapat bekerja sama membangun riset.
“PKS ini betul-betul harus kita kawal dan mudah-mudahan sesuai target awal output dari PKS ini kita bisa mendorong hiilirisasi untuk pengolahan monasit menjadi oksida LTJ yang bisa terlaksana.
Kedepan logam ini akan penting dan stragis yang membuat akan menjadi rebutan banyak negara karena penerapannya untuk teknologi,” ujarnya.
Secara bersamaan, Direktur Pembinaan Pengusahaan Mineral Kementerian ESDM Ediar Usman mengatakan, PKS ini merupakan hal yang baik sesuai dengan Undang-undang Nomo 3 Tahun 2020 Tentang Pertambangan Mineral dan Batubara yang mengamanatkan perlunya meningkatkan nilai tambah yang bertujuan dampak ekonominya lebih tinggi dan teknologi yang lebih hilir.