
INTRIK.ID, BANGKA BARAT – Tugu Mihrab di Desa Cupat, Kecamatan Parittiga, Kabupaten Bangka Barat, tak lagi sekadar berdiri sebagai penanda kawasan. Dengan dukungan PT Timah (Persero) Tbk, kawasan tersebut kini mulai ditata menjadi ruang publik yang lebih hidup dan memiliki manfaat bagi masyarakat.
Tugu yang sebelumnya dibangun dengan dukungan PT Timah beberapa tahun lalu itu kembali diperbaiki setelah mengalami kerusakan. Tak hanya memperbaiki bagian tugu, pemerintah desa bersama perusahaan juga melakukan penataan taman di kawasan sekitarnya.
Kepala Desa Cupat, Gegha Khris Kharishma, mengatakan pengembangan tersebut dilakukan agar keberadaan Tugu Mihrab tidak berhenti sebagai ikon desa, tetapi dapat dimanfaatkan masyarakat.
“Awalnya tugu ini dibangun oleh PT Timah beberapa tahun lalu. Sekarang kami percantik lagi, termasuk memperbaiki bagian yang rusak dan menata kawasan di sekitarnya menjadi taman dengan dukungan PT Timah,” ujar Gegha.
Menurutnya, keberadaan taman juga memiliki fungsi lain. Selain mempercantik kawasan di depan kantor desa, penataan tersebut diharapkan membuat masyarakat semakin peduli terhadap lingkungan sekitar.
Kawasan Tugu Mihrab berada di ruas jalan yang memiliki tikungan dan dinilai cukup rawan bagi pengguna jalan. Karena itu, keberadaan taman diharapkan turut membuat pengendara lebih berhati-hati.
“Daerah ini rawan kecelakaan karena kondisi jalannya merupakan tikungan. Dengan adanya taman, kami berharap pengendara bisa lebih pelan ketika melintas sehingga kawasan ini juga menjadi lebih aman,” katanya.
Bagi Desa Cupat, Tugu Mihrab juga memiliki nilai sejarah. Bentuk tugu yang menyerupai mangkok keruk menjadi simbol yang berkaitan dengan sejarah aktivitas pertambangan timah di wilayah tersebut.
“Tugu Mihrab ini kami harapkan menjadi ikon Desa Cupat. Bentuknya juga menggambarkan mangkok keruk yang identik dengan sejarah pertambangan timah di daerah ini,” jelasnya.
Pemerintah desa tidak ingin taman tersebut hanya menjadi penghias kawasan. Ke depan, kelompok perempuan melalui PKK diharapkan dapat terlibat dalam pengelolaannya, salah satunya dengan mengembangkan Taman Tanaman Obat Keluarga (TOGA).
“Ke depan, kami berharap ibu-ibu PKK bisa ikut merawat dan mengembangkan taman ini. Misalnya dengan membuat taman TOGA sehingga kawasan ini tidak hanya menjadi taman biasa, tetapi juga memiliki manfaat bagi masyarakat,” ujarnya.
Gegha menilai keberadaan taman membuat pemanfaatan kawasan menjadi jauh lebih luas.
“Kami sangat terbantu karena kalau hanya tugu, pemanfaatannya tentu tidak terlalu produktif. Dengan adanya taman, ke depan kawasan ini bisa menjadi tempat wisata atau ruang berkumpul masyarakat,” katanya.
Lebih jauh, penataan kawasan tersebut juga diharapkan menumbuhkan rasa memiliki masyarakat. Dengan keterlibatan warga dalam menjaga fasilitas, keberadaan taman dan tugu diharapkan dapat dipelihara secara berkelanjutan.
“Kalau ada taman, masyarakat bisa ikut menjaga dan merasa memiliki. Kalau semua merasa ikut menjaga, tentu akan ada rasa tanggung jawab. Masyarakat juga bisa saling memantau,” ujarnya.
Dukungan PT Timah terhadap Desa Cupat juga memiliki cerita tersendiri. Kantor Desa Cupat yang kini menjadi pusat pelayanan masyarakat ternyata merupakan bangunan yang sebelumnya pernah digunakan sebagai rumah sakit milik PT Timah.
“Kantor desa ini dulunya merupakan rumah sakit milik PT Timah. Sekarang bangunan tersebut kami optimalkan menjadi kantor desa dan fasilitas pelayanan bagi masyarakat,” kata Gegha.
Ia mengapresiasi dukungan PT Timah terhadap pengembangan sarana dan prasarana desa. Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah desa, masyarakat dan perusahaan dapat membantu mengoptimalkan fasilitas yang memiliki nilai sejarah sekaligus memberikan manfaat baru bagi warga.
Dengan penataan Tugu Mihrab dan kawasan sekitarnya, Desa Cupat kini tidak hanya mempercantik wajah desa. Lebih dari itu, kawasan tersebut mulai diarahkan menjadi ruang publik yang memiliki fungsi sosial, mendukung keselamatan pengguna jalan, membuka peluang kegiatan masyarakat, hingga berpotensi dikembangkan sebagai destinasi wisata lokal.
Bagi masyarakat Cupat, tugu yang membawa jejak sejarah pertambangan itu kini memiliki harapan baru: bukan hanya dikenang sebagai simbol masa lalu, tetapi juga menjadi ruang yang hidup dan bermanfaat bagi generasi berikutnya. (*)
Sumber: PT Timah Tbk