
“Selama ini arak baik-baik saja. Yang ditindak tegas adalah orang-orang nakal yang tidak jelas membeli arak untuk apa,” jelas Algafry.
“Kita tidak pernah menindak orang ibadah, berobat dan lainnya walaupun memang harus pakai arak,” lanjutnya.
Ia menuturkan, produsen arak harusnya punya kesadaran untuk tidak menjual kesembarang orang maupun dijual bebas.
“Jika ada orang yang mau beli (arak-red) untuk mabuk-mabukan bisa langsung di-cut (ditolak-red), kami akan tidak dan tertibkan itu. Kami tidak melarang, tapi kalau jual beli ke orang yang tidak jelas, produsen arak harus bertanggung jawab,” tutur Algafry.