
Oleh sebab itu, pembangunan rumah adat ini memang senantiasa memanfaatkan berbagai macam bahan yang terdapat di alam sekitar. Masyarakat Aceh paham sekali mengenai bagaimana cara untuk memanfaatkan alam guna membangun sebuah hunian yang nyaman.
Berbagai kayu pilihan yang dipakai untuk membuat tiang, atap dari daun rumbia, dan papan untuk dinding. Hal yang sangat istimewa dari rumah adat ini yaitu walaupun terbuat dari bahan alam, namun Rumah Krong Bade yang memiliki bentuk berupa rumah panggung tersebut bisa kokoh berdiri sampai 200 tahun lamanya.
Setiap rumah adat tentu saja hadir dengan keunikan tersendiri. Sama halnya dengan Rumah Krong Bade yang memiliki beberapa keunikan salah satunya pada material bahan pembangunannya.
Pasalnya, rumah adat yang satu ini dibangun dengan memakai material atau bahan yang asalnya dari hasil alam sekitar. Di dalam proses pembangunannya, ternyata rumah adat tersebut sama sekali tidak memakai paku serta hanya memakai tali yang asalnya dari daun dan serabut akar saja.
Keunikan yang selanjutnya dimiliki oleh rumah ini yaitu adanya ukiran yang tidak biasa. Pasalnya, ukiran yang terdapat di rumah tersebut akan melambangkan tentang status sosial yang dimiliki oleh keluarga itu.
Jika di dalam rumah terdapat semakin banyak ukiran, maka bisa dibilang bahwa keluarga yang tinggal di dalam rumah tersebut memiliki status sosial yang tergolong lebih tinggi.
Pintu di Rumah Krong Bade memiliki ukuran yang terbilang lebih kecil dibandingkan tinggi dari manusia pada umumnya. Hal tersebut sengaja dibuat seperti itu guna memberikan salah hormat untuk pemilik rumah dengan cara terlebih dahulu membungkuk sebelum masuk ke area rumah dan tanpa membedakan status dari tamu yang datang ke dalam rumah.
Bagian rumah yang pertama yaitu serambi depan atau yang biasanya disebut sebagai seuramoe-ukeu. Ruangan tersebut memiliki fungsi menjadi ruang untuk beristirahat dan bersantai untuk semua anggota keluarga. Ruangan ini juga dapat digunakan sebagai sebuah tempat guna menyambut atau menerima tamu yang datang.
Untuk bagian rumah yang selanjutnya yaitu serambi belakang. Umumnya, masyarakat setempat menyebut ruangan ini dengan nama seuramoe-likoot. Ruang serambi belakang ini memiliki fungsi guna menjadi dapur untuk memasak, tempat makan, serta tempat berkumpul bersama seluruh anggota keluarga.
Ruangan yang paling utama dari rumah adat Aceh ini yaitu disebut dengan rumah induk atau rumah inong. Ruangan yang satu ini adalah sebuah ruangan inti yang terdapat di dalam rumah adat. Rumah inong umumnya akan ditandai oleh lantainya yang terbilang lebih tinggi jika dibandingkan dengan serambi depan dikarenakan memiliki sifat yang lebih privat.

Tahap yang paling penting dan utama untuk dilakukan sebelum memulai proses pembangunan rumah adat yaitu melakukan musyawarah dengan keluarga. Sesudah hasilnya ditentukan serta mencapai mufakat, maka semua hasil dari perencanaan wajib untuk disampaikan kepada Ulama atau Teungku yang ada di kampung itu.