
Banyak kalangan yang memperdebatkan apakah orang Bangka itu termasuk orang Melayu. Orang Bangka dalam pengertian orang asli Bangka adalah beberapa suku bangsa asli ( indegenous people) yang pertama kali menempati beberapa wilayah di Bangka. Dalam hal ini suku-suku asli Bangka adalah orang Mapur dan orang Lum. Semua aktivitas sosial dan politik selalu dikaitkan dengan putra daerah: pejabat pemerintah, anggota dewan, sampai ke masalah kemungkinan dan penyebab konflik etnis di Bangka-Belitung. Walaupun dampak negative tidak terlalu besar imbasnya terhadap kehidupan masyarakat namun, harus diantisipasi dari sekarang seiring pertumbuhan pembangunan dan mulai mengalirnya para pendatang berbagai suku/etnik yang ada di Babel dengan berbagai kepentingan, gesekan akan muncul apabila lemahnya rasa toleransi dan pola hidup damai. Sumber konflik di Bangka Belitung berasal dari beberapa kelompok etnis yang ada, antara lain seperti Bangka-Palembang dan Bangka-Madura.
Salah satu Contoh Kasus yang pernah terjadi pada waktu lalu antara penduduk Bangka dan Palembang yaitu seorang warga palembang diduga telah membunuh seorang warga Jl. Kampung Opas Indah Pangkalpinang Babel, sedangkan seorang lain terluka parah. Kejadian yang ditengarai merupakan rentetan kejadian dari Pasar Trem itu juga merebakkan isu bahwa yang terbunuh bukan hanya satu, melainkan tiga orang. Peristiwa ini memicu niat aksi balas dendam antara kedua pihak.
Kemudian Kasus Konflik antara kelompok Bangka dan Madura yang pernah terjadi diawali dengan peristiwa di Desa Cit. Warga Desa Cit Kecamatan Belinyu hampir saja melakukan pengrusakan dan pengusiran terhadap warga pendatang lainnya yang bermukim di Desa Cit. Aksi pembakaran yang berkembang menjadi ancaman pengusiran setiap pendatang di Desa Cit itu, merupakan akibat dari adanya tiga warga pendatang (Madura) yang kedapatan sering melakukan pencurian, baik tanaman kebun maupun mesin TI milik warga. Karena kesal tidak berhasil meringkus ketiga tersangka itu, akhirnya warga mengancam mengusir seluruh pendatang jika dalam tempo tiga hari ketiga tersangka tidak diserahkan. Warga pendatang sebagian besar dari etnik Madura yang sudah puluhan tahun hidup bertetangga dengan warga Desa Cit akhirnya melaporkan ancaman itu kepada pihak berwajib. Pemerintah Kabupaten Bangka yang tidak menginginkan pertikaian meluas menjadi masalah SARA akhirnya mengutus tim yang dipimpin Asisten Pemerintahan dan Pembangunan Setda Bangka. Selanjutnya kedua belah pihak berjanji tidak bakal melakukan pengrusakan, bahkan pengusiran. Konflik di Dusun Air Sampik Desa Air Gegas Kabupaten Bangka Selatan antara etnik Melayu Lokal dengan etnik Jawa, Konflik etnik Selapan dengan etnik lokal Koba di Bangka Tengah. itulah beberapa konflik yang pernah terjadi di Bangka Belitung antar etnis.
Lalu Bagaimana dengan Respon Lembaga adat atas konflik etnis?