
Sudah saatnya kaum muslimin, tentara islam juga para penguasa muslim mengutamakan persatuan dan membuang batas-batas sekat nasionalisme yang memisahkan mereka. Takut kepada Allah, memilih sikap ksatria yang berani. Meninggalkan sikap cinta dunia dan takut mati untuk meraih surga dan pahala yang besar.
Rasulullah saw. bersabda, “Muslim itu saudara bagi Muslim lainnya. Dia tidak layak menzalimi dan menyerahkan saudaranya kepada musuh.” (HR al-Bukhari dan Muslim).
Persatuan seluruh kaum muslimin harus menjadi agenda bersama. Sebab dengan tercerai berai kaum muslimin menjadi lemah dan mudah untuk dikuasai oleh musuh. Sementara sisa lainnya seperti buih dilautan yang banyak namun minus kekuatan.
Oleh karena itu mewujudkan persatuan ummat islam adalah salah satu langkah strategis. Bersatunya kaum muslimin dalam satu negara islam akan membuat musuh ketakutan. Sebab sebetulnya kaum muslimin adalah ummat yang kuat dan tertoreh dalam tinta emas sejarah bahwasanya tentara muslim pada masa kekhilafahan Islam Utsmaniyyah merupakan tentara terkuat di dunia yang ditakuti oleh musuh-musuh islam.
Kepala negara juga akan memberikan komando jihad untuk para tentara muslim menerobos perbatasan Palestina, mengusir penjajah zionis serta para sekutu mereka dan membebaskan kaum muslim dari penjajahan yang telah mereka alami selama bertahun-tahun. Sungguh, yahudi adalah kaum yang tidak bisa diajak kompromi. Mereka hanya bisa diusir dengan kekuatan jihad fii sabilillah. Oleh karena itu kaum muslimin membutuhkan pemimpin yang hanya takut kepada azab Allah bukan takut kepada musuh, sehingga pemimpin ini akan menjadi perisai bagi seluruh kaum muslimin sebagaimana sabda Nabi Saw:
“Sesungguhnya seorang imam itu (laksana) perisai. Ia akan dijadikan perisai yang orang-orang akan berperang di belakangnya, dan digunakan sebagai tameng. Jika ia memerintahkan takwa kepada Allah Taala, dan adil, maka dengannya ia akan mendapatkan pahala. Namun, jika ia memerintahkan yang lain, ia juga akan mendapatkan dosa/azab karenanya.” (HR Bukhari dan Muslim)
Oleh karena itu, selama kaum muslimin Palestina belum terbebas dari penjajahan, kita harus terus berjuang dan tidak melupakan mereka. Pengingat di awal ramadan ini dari seorang penulis Palestina Adham Syarqawi “Ramadan tahun ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, ia datang untuk mengingatkanmu: bahwa kamu punya saudara yang telah memulai ‘puasa’-nya sejak 5 bulan lalu. Namun sampai kini, ia belum berbuka….”