Pembantaian dan Kelaparan di Palestina, Mengapa Dunia Hanya ‘Diam’ Saja?

    Nurul Aryani

    Menyeret Zionis Yahudi ke ICJ juga tidak membuat mereka berhenti melakukan genosida. Faktanya genosida tetap berlanjut dan menjadi semakin brutal, kaum muslimin bahkan ditembak sekalipun di dalam tenda pengungsian mereka.

    Para penguasa negeri muslim tidak berani mengambil langkah nyata. Misalnya saja ketika Iran menyarankan untuk melakukan embargo minyak terhadap zionis yahudi, namun usulan ini justru di tolak mentah-mentah oleh negara-negara arab. Pengamat politik internasional di kawasan Timur Tengah dari Universitas Indonesia, Yon Machmudi, mengatakan penolakan ini muncul lantaran negara-negara Teluk lebih dekat dengan Amerika Serikat, sekutu dekat zionis. Menurutnya menjatuhkan sanksi embargo kepada Israel membuat negara Arab seperti Arab Saudi hingga Uni Emirat Arab yang dekat dengan AS cemas akan memicu masalah dengan Negeri Paman Sam. (CNN Indonesia)

    Dengan demikian, drone yang terbang diatas langit Gaza, tank-tank yang melindas penduduk Gaza, itu bisa bergerak dengan aliran minyak dari negeri-negeri kaum muslim. Alih-alih memikirkan nyawa saudara muslim mereka. Penguasa arab lebih mementingkan keberlangsungan hubungan mereka dengan AS dan justru takut kepada negara paman sam ini. Padahal mengembargo minyak adalah langkah nyata dan strategis yang bisa dilakukan negara-negara arab. Sungguh wajar jika kaum muslimin di Palestina telah merasa ditinggalkan oleh negara-negara muslim disekitar mereka dan hanya berharap akan pertolongan Allah SWT.

    Dampak Nasionalisme

    Sikap penguasa negeri-negeri muslim merupakan dampak dari sekat nation state atau nasionalisme. Dimana penguasa muslim hanya mementingkan negeri mereka sendiri dan keselamatan negara mereka tanpa mempedulikan urusan kaum muslimin di luar negara mereka.

    Letnan Jenderal Sir John Glubb (‘Glubb Pasha’), yang pernah memimpin ‘Arab Legion’ (1938-1956). Sebagaimana dinukil dalam Buku The Changing Scenes of Life-An Autobiography: Sir John Glubb (Quartet Books, hlm. 54), dia tegas menyatakan, “Nasionalisme adalah satu kecelakaan (bagi Dunia Islam, pen.) yang sengaja dibawa masuk dari Eropa.” (Kaffah edisi 316)

    Sikap ashabiyyah berbentuk nasionalisme ini telah membuat kaum muslimin lemah dan tidak mampu menolong saudaranya. Hal ini dengan sengaja diciptakan oleh dunia barat pasca runtuhnya daulah utsmaniyyah pada 3 maret 1924. Barat membagi-bagi dan menjajah negeri-negeri islam, menerapkan aturan mereka dan merebut wilayah mereka. Nampak jelas Palestina bukan hanya korban dari agresi militer melainkan juga korban dari sekat nation state ini.

    Solusi Tuntas Bagi Kaum Muslimin Palestina

    Kaum muslimin tidak bisa berharap kepada lembaga-lembaga Internasional yang telah dikuasai dan disetir oleh sekutu zionis dan secara terang-terangan membantu dalam genosida di Gaza. Kaum muslimin harus berani mengambil langkah nyata dan strategis. Langkah tersebut ialah mencabut benalu yang selama ini menempel pada tanah Palestina. Yakni mengusir Zionis Yahudi dengan kekuatan militer yang dimiliki oleh negeri-negeri muslim. Agar kaum muslimin mampu memenangkan perang ini, mereka membutuhkan kekuatan besar. Maka ini menegaskan kepada kita pentingnya mewujudkan persatuan. Sebagaimana yang Allah SWT perintahkan dalam al qur’an surah Ali Imran ayat 103:

    “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.”

    Ketika kaum muslimin bersatu mereka akan memiliki kekuatan untuk mengalahkan aliansi musuh. Ini telah dibuktikan dalam sejarah bagaimana Rasul bersama kaum muslimin di negara islam Madinah berhasil memenangkan perang khandaq atau disebut juga perang Ahzab sebab kaum muslimin harus melawan aliansi atau gabungan musuh yang terdiri dari Kaum Quraisy, Yahudi Bani Nadhir dan kaum Gathafan. Mereka yang datang untuk mengalahkan kaum muslimin dan ingin mengambil alih Madinah harus pulang dengan kekecewaan. Walaupun jumlah mereka 3 kali lipat jumlah kaum muslimin dan mereka telah berusaha mengepung Madinah selama 27 hari. Namun, dengan komando yang satu dari kepala negara islam yakni Rasul saw serta persatuan kaum muslimin maka musuh berhasil diusir mundur.

    Pages: 1 2 3 4
    Tagged with:
    opini
      Ikuti kami di Facebook