
Pemberitaan INTRIK.ID Sebelumnya Bagaimana sistem penambangan mau tertata rapi Jika masih ada praktek Kordinasi. Corat marut manajemen pertambangan timah khusus di Provinsi Babel bukan menjadi rahasia umum. Sejumlah pemangku kepentingan seperti generator yang terus bergerak seperti tiada henti, membuat pola agar tujuan tercapai.
Harus kita akui salah satu sisi hasil pertambangan pasir timah, bisa mendongkrak perekonomian masyarakat. Namun dibalik ini semua celah perizinan menjadi mangsa oleh sistem tertentu untuk munculnya biaya Kordinasi.
Pilihan sulit bagi masyarakat penambang mundur tidak ikut Kordinasi ekonomi keluarga jadi taruhan. Mengikuti arus Kordinasi terasa menjadi beban. Sedang sistem tertentu dengan mudah mendapatkan cuan tanpa ikut melakukan penambangan.
Fenomena diatas terjadi juga di perairan Muara Tengkorak Sungailiat Bangka, dimana masyarakat penambang dikenakan biaya Kordinasi. Seperti disampaikan AB ( Masyarakat penambang ) kepada Redaksi INTRIK. ID Selasa ( 13/6/2023) siang.
“Saya hanya menyampaikan keluhan saya selaku pribadi sebagai penambang di Muara Tengkorak. Biaya Kordinasi RP 15000 perkilogram sangat besar. Bukannya kita tidak mau ikut soal biaya tersebut, iya kalau hasil timahnya banyak, kalau hasilnya sedikit bagaimana? Mungkin bagi penambang lain tidak merasa berat,” kata AB.