Industri Kreatif di Masa Pandemi: Mengubah Tantangan Menjadi Peluang

    Bagi dunia perbukuan, beber Hikmah, dampak pandemi sangat jelas terasa. Awal pandemi bahkan laba penerbit terjun bebas di angka 20 persen.

    Sebelum pandemi para penerbit terbiasa memcetak 3 ribu – 5 ribu buku. Saat pandemi pola ini berubah, penerbit dituntut berhemat cash flow.

    “Pre-order sekarang sangat menjamur, buku itu belum dicetak sudah ditawarkan sehingga yang diproduksi sesuai permintaan,” jelasnya.

    Selain itu penerbit juga perlu mengubah orientasi marketing. Dengan adanya pandemi mengganggu jalur distribusi. “Optimalisasi pasar online menjadi faktor penting. Dengan cara ini kita mampu bisa bertahan,” tegasnya.

    “Tak ada pelaut ulung di laut tenang menjadi sangat releven dalam pandemi ini.”

    Namun yang sering dilupakan data konsumen. Enterprenuer tidak punya data cukup tentang konsumennya. “Selera masing-masing konsumen ini menjadi penting ketika ditawarkan buku,” imbuhnya.

    Dalam kesempatan itu, Didiet Maulana pun berbagi tips agar produk kreatif yang dihasilkan bisa menembus pasar internasional. “Pertama harus kita garis bawahi adalah sebetulnya bagaimana produk kita bisa diterima secara kualitas dan nilai itu di lokal dulu, yang penting diperhatikan. Ukuran sizenya harus betul, adanya konsistensi produk, faktor keamanam, packing juga memegang peranan penting untuk dunia internasional,” urainya.

    Pages: 1 2 3
      Ikuti kami di Facebook