Identitas yang Dinamis dan Resistensi Ala Homi K. Bhabha

    Izcha Pricispa

    Sederhananya, ketika kita berfikir kita orang Bangka Belitung kemudian kita berfikir bahwasannya kita ini masyarakat yang ramah, tamah, sopan, santun, atau murah senyum. Di sini kita selalu mencoba untuk mendifinisikan diri kita dan percaya bahwa yang ada pada diri kita itu murni dari diri kita sendiri. Padahal proses identifikasi tersebut merupakan hasil dari kontsruksi yang dinamis. Jika kita kaitkan pada masa kolonial Belanda, yang pada saat itu orang-orang eropa menganggap mereka paling keren dan modern (Superior) sehingga mereka menganggap kita sebagai orang yang primitive dan tertinggal (Inferior). Jadi, terdapat satu cara untuk kita lepas dari definisi dan penafsiran yang telah diciptakan oleh mereka. Caranya yaitu dengan mimikri. Mimikri itu memang meniru akan tetapi tidak sama persis. Jadi ketika kita meniru mereka, secara tidak langsung kita telah menentang dan menghancurkan definisi atau penafsiran yang telah mereka bangun terhadap kita.

    Hibriditas

    Hibriditas yang dimaksudkan dalam teori postkolonialisme adalah semua cara yang dimana kosakata ini dihancurkan dan ditentang. Bhaba (1994) menyatakan bahwasannya hubungan antara penjajah dengan terjajah itu bukan suatu oposisi antagonistik yang dimana selalu bertentangan melainkan hubungan itu akan lebih kompleks. Hibriditas dapat menjadi perspektif baru untuk memberikan ulasan kembali konsep identitas yang berkaitan dengan kondisi yang diskriminatif.

    Penulis menganalogikan konsep mimikri dan hibriditas yaitu dengan, pada saat mereka menganggap pakaian kita tidak modern maka kita bisa mengahancurkan anggapan mereka dengan mengkombinasikan pakaian kita dengan pakaian mereka. Semisal mereka identik dengan memakai jas maka kita bisa mengkombinasikan jas tersebut dengan kain cual. Mungkin terkesan meniru akan tetapi realitas nya kita masih mempertahankan kain cual yang dalam artinya kita masih mempertahankan kebudayaan kita, namun dengan cara mencampurkan atau mengkombinasikannya. Oleh karena itu, dalam konteks ini pencampuran budaya tersebut bebas dari kekuasaan kolonial dan juga memperlihatkan konstruksi budaya yang serupa, akan tetapi tidak sama dengan asalnya (meniru tetapi tidak sama). Bahasa sederhananya adalah mengkombinasikan antara yang lokal dengan global.

    Dengan demikian dalam hal ini terdapat proses dekonstruksi identitas. Mereka tidak bisa mendefinisikan atau memberikan tafsiran terhadap kita. Oleh karena itu, kita sudah mengacaukan atau mengahancurkan definisi atau tafsiran mereka terhadap kita. Inilah salah satu contoh bentuk dari hibriditas ala Homi K Bhabha.

    Pages: 1 2 3Show All
      Ikuti kami di Facebook