
Molen menuturkan, penduduk Pangkalpinang pun pada tahun 1848 berdasarkan catatan statistik telah berjumlah sekitar 5.651 jiwa yang mendiami 105 kampung. Perkembangan selanjutnya, Pangkalpinang ditetapkan sebagai ibu kota Keresidenan Bangka dan menjadi pusat pemerintahan menggantikan kota Mentok.
“Selanjutnya Pangkalpinang ditetapkan menjadi ibu kota Keresidenan Bangka Belitung atas dasar ordonansi tanggal 2 Desember 1933. Pada masa Jepang sejak tahun 1942, Kota Pangkalpinang menjadi pusat Pemerintahan Bangka Belitung Gunseibu. Setelah kemerdekaan berdasarkan ketetapan Gubernur Sumatera, Teuku Moh Hasan tanggal 17 Mei 1956 nomor 103 Pangkalpinang dibentuk sebagai kota B yang berhak mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri dalam lingkungan Sumatera Selatan,” sebutnya.
Masa mempertahankan kemerdekaan hingga 1949, tutur Molen, Pangkalpinang menjadi kota penting tempat berlangsungnya diplomasi politik internasional, mulai dari dilaksanakannya konferensi Pangkalpinang hingga dilaksanakannya berbagai pertemuan antara delegasi Republik Indonesia, delegasi Pemerintah Belanda, Badan Perwakilan Federal BFO dan Badan PBB seperti KTN dan UNCI.
“Tanpa terasa oleh kita, Pangkalpinang sudah berusia 265 tahun. Dengan usia tersebut masih banyak kekuatan dan potensi yang kita miliki harus digali, masih banyak tantangan yang harus kita hadapi, masih banyak peluang yang harus kita cermati dan masih banyak kelemahan yang harus kita perbaiki. Memang telah banyak yang kita lakukan untuk Kota Pangkalpinang tapi tugas dan pengabdian belum selesai,” tegas Molen.
Menurutnya, memperingati hari jadi kota adalah memperingati suatu peristiwa sejarah yang dianggap penting sebagai tonggak atau momentum keberadaan sebuah kota dan momentum untuk lebih giat bekerja membangun kota. Dalam konteks membangun dan melestarikan Kota Pangkalpinang, Molen berharap cita-cita sejarah masa lalu harus dihargai, untuk membangun dan merayakannya pada masa kini dan untuk merangkul serta merencanakan masa depan yang gemilang.