
Warga mengaku telah menempuh seluruh jalur formal, mulai dari Musrenbang, audiensi kelurahan, hingga surat resmi ke Dinas PUPR Bangka Tengah. Namun, tindakan nyata yang terlihat hanyalah normalisasi saluran sesaat yang kembali dangkal dalam waktu singkat.
Salah satu poin yang paling disorot warga adalah rencana pembangunan kolam retensi yang sempat mencuat pada tahun 2018. Delapan tahun berlalu, proyek yang digadang-gadang menjadi penawar banjir itu tak kunjung menampakkan wujudnya.
“Katanya mau dibangun kolam retensi dari 2018, sampai sekarang gambarnya saja tidak ada,” tambah Rizal.
Masalah kian pelik karena posisi Kelurahan Berok yang berada di dataran rendah. Saat hujan deras, air dari kawasan yang lebih tinggi mengalir deras ke Berok, sementara saluran induk menuju muara mengalami pendangkalan parah dan penyempitan akibat bangunan di bantaran.