
“Dari 37 tersebut, masing-masing poktan/Gapoktan setidaknya punya sepuluh orang anggota,” ucap Sukandar.
Berdasarkan data tahun 2019 dan 2020, Sukandar menjelaskan bahwa tingkat pemenuhan cabai merah dari para petani untuk konsumsi masyarakat Kabupaten Bangka Tengah selalu di atas 100 persen.
Sedangkan pada tahun 2021 lalu, angka pemenuhan cabai merah hanya mencapai 90-an persen, begitupun yang akan terjadi pada tahun 2022 ini.
Lanjut Sukandar, turunnya angka pemenuhan cabai dari petani di Bangka Tengah itu tidak terlepas dari faktor banyaknya para petani cabai yang beralih profesi menjadi petani lainnya atau bahkan menjadi penambang.
“Sebenarnya para petani kita bisa saja memenuhi kebutuhan konsumsi cabai di Bangka Tengah. Tapi sayangnya ada bulan-bulan tertentu dimana kondisi produksi cabai kadangkala merosot. Oleh karena itu, impor dari luar pulau juga masih tetap diperlukan,” ujarnya.
Sukandar berujar, turunnya angka pemenuhan stok cabai di Bangka Tengah juga dipengaruhi siklus tanam yang berbeda-beda dari masing-masing petani.