
Langkah yang diambil Blibli ini menandai penguatan komitmen Perseroan untuk terus menjadi ekosistem perdagangan omnichannel yang relevan dengan kebutuhan pelanggan dari waktu ke waktu, seraya konsisten menjamin kepuasan pelanggan di setiap pengalaman belanja melalui operational excellence di setiap lini.
Gudang Blibli dikatakan mempunyai ratusan ribu SKU, sehingga tanpa AI itu akan menghabiskan banyak waktu. Belum lagi masalah produk kombinasi (misal makanan dengan sabun) di mana metode pengemasan membutuhkan perlakuan khusus dan AI akan bertugas memberikan rekomendasi pengemasan yang sesuai.
“AI akan memberi tahu tim pengemas soal barang apa saja yang harus mereka kemas, kemudian kemasan di dalamnya sampai pada untuk bagian luar, di mana AI akan memberi rekomendasi ukuran kardus yang tepat,” ujar Azizah Purwitasari, Head of Business Process Transformation Blibli.
Implementasi dari teknologi AI digunakan untuk meningkatkan efisiensi operasional, memberikan pengalaman pelanggan yang unggul, dan menjadi yang terdepan dalam inovasi di industri e-commerce.
Selain itu, anak perusahaan Djarum ini juga mengintegrasikan AI sebagai bagian dari komitmen terhadap prinsip-prinsip lingkungan, sosial, dan tata kelola perusahaan (ESG). Integrasi juga tidak hanya melibatkan pengembangan teknologi, tetapi juga dalam strategi bisnis yang menyeluruh untuk mencapai keunggulan kompetitif dan pertumbuhan berkelanjutan.
Total terdapat lima solusi berbasis AI yang dihadirkan di jaringan gudang Blibli, yakni:
Pemanfaatan AI memperkuat komitmen Blibli dalam membangun sistem pergudangan dan distribusi yang lebih efektif dan memadai, di mana kini e-commerce didukung oleh 16 gudang terpadu yang tersebar di beberapa kota di Indonesia.
Saat ini, implementasi AI pada pengemasan semakin tinggi dari sisi adoption rate yaitu meningkat hingga 86 persen, yang artinya rekomendasi yang diberikan oleh AI semakin baik dan tepat untuk dijadikan acuan oleh tim packer pada saat melakukan pengemasan barang.