
Ia mencontohkan keberhasilan Atika Putriani, peraih medali emas PON, yang disebutnya tidak lepas dari tangan dingin Syarli. Bahkan Atika juga mampu tampil hingga ke kejuaraan dunia di Uzbekistan.
“Atika mampu menembus Pelatnas saya rasa juga tak terlepas dari managerial Syarli. Ini harus disadari oleh semua pihak,” jelasnya.
Tak hanya itu, nama-nama seperti Tangguh Anugerah (Tapak Suci), Ardiansyah (PSHT), hingga Tisya Anastasya (Lebah Sakti) terus dapat mengikuti berbagai event nasional meskipun tanpa sokongan anggaran dari KONI maupun pemerintah.
“Syarli selalu punya cara. Ketika anggaran tidak ada, beliau turun tangan mencarikan donatur dan bapak asuh. PON Beladiri Kudus, Indonesia Open Medan, semua tidak disuport oleh pemerintah. Tapi atlet tetap berangkat bertanding dan berprestasi. Itu bukti loyalitas beliau pada pencak silat Babel,” tegas Hairul.