
INTRIK.ID, PULAU NANGKA – Sebuah pertanyaan sederhana yang sering muncul dari para orang tua di Pulau Nangka menjadi titik awal lahirnya kegiatan pengabdian mahasiswa Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik (SAS) Bangka Belitung.
“Bagaimana cara mendampingi anak agar tetap semangat sekolah dan punya cita-cita?”
Pertanyaan itulah yang banyak ditemukan mahasiswa saat melakukan survei lapangan sebelum menyusun program pengabdian masyarakat. Temuan tersebut kemudian melahirkan workshop bertajuk “Orang Tua Inspiratif: Mendukung Pendidikan dan Cita-Cita Anak” yang digelar di Pulau Nangka, Sabtu (6/6/2026).
Berbeda dengan kegiatan penyuluhan pada umumnya, mahasiswa KPI terlebih dahulu turun langsung ke masyarakat untuk mendengar persoalan yang dihadapi warga. Dari hasil survei itu, mereka menemukan bahwa banyak orang tua memiliki keinginan besar melihat anaknya berhasil, namun masih kebingungan mengenai cara memberikan dukungan yang tepat.
Temuan tersebut kemudian menjadi dasar penyusunan materi agar kegiatan benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat.
Dosen pengampu mata kuliah Public Relations Profesional, Yera Yulista, M.Si., mengatakan pendekatan berbasis riset seperti ini menjadi bagian penting dalam pembelajaran mahasiswa.
“Mahasiswa belajar bahwa sebuah program tidak bisa dibuat berdasarkan asumsi. Mereka harus mendengar masyarakat terlebih dahulu, memahami kebutuhannya, kemudian merancang solusi yang relevan. Itu inti dari komunikasi dan kehumasan yang sesungguhnya,” ujarnya.
Dalam kegiatan tersebut, narasumber Topandra, S.IP., mengajak para orang tua memahami bahwa keberhasilan anak tidak hanya ditentukan oleh kemampuan akademik, tetapi juga oleh dukungan emosional yang diberikan keluarga.
Menurutnya, orang tua tidak harus selalu mampu menyediakan segala kebutuhan materi. Kehadiran, perhatian, dan komunikasi yang baik justru sering menjadi faktor yang paling dibutuhkan anak.
“Kadang anak hanya ingin didengarkan. Mereka ingin orang tua tahu apa cita-citanya dan mendukung prosesnya. Dukungan sederhana seperti itu bisa menjadi motivasi besar bagi anak,” jelas Topandra.
Suasana diskusi berlangsung hangat. Para ibu rumah tangga yang hadir tampak antusias menceritakan pengalaman mereka mendampingi anak belajar maupun menghadapi tantangan pergaulan dan penggunaan gawai.
Banyak peserta mengaku baru menyadari bahwa komunikasi yang baik di rumah memiliki pengaruh besar terhadap semangat belajar dan kepercayaan diri anak.
Bagi mahasiswa KPI, kegiatan ini bukan hanya tentang menyelesaikan tugas perkuliahan, melainkan kesempatan untuk membuktikan bahwa ilmu komunikasi dapat hadir sebagai solusi nyata bagi masyarakat.
Melalui kegiatan sederhana yang berawal dari mendengar keluhan orang tua, mahasiswa berharap semakin banyak keluarga di Pulau Nangka yang mampu menjadi lingkungan pertama yang mendukung anak-anak meraih pendidikan dan masa depan yang lebih baik.