
INTRIK.ID, BELITUNG — Terbukanya penerbangan internasional langsung Singapura–Belitung mulai memberi angin segar bagi sektor pariwisata Pulau Belitung. Momentum ini langsung dimanfaatkan Bank Indonesia (BI) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung untuk mendorong percepatan daya saing pariwisata sekaligus menggerakkan ekonomi masyarakat melalui penguatan UMKM dan pelaku wisata lokal.
Komitmen itu terlihat dalam rangkaian Festival Budaya Napak Sire 2026 yang resmi dibuka di Pantai Tanjung Pendam, Jumat (22/5/2026). Festival budaya yang masuk dalam Karisma Event Nusantara (KEN) 2026 Kementerian Pariwisata ini berlangsung meriah dengan penampilan Tari Sekapur Sirih massal yang melibatkan 116 penari dari berbagai sanggar dan sekolah, serta kegiatan Nyire Massal yang diikuti sekitar 1.000 peserta.
Festival ini menjadi simbol kolaborasi besar antara Pemerintah Daerah, Bank Indonesia, pelaku pariwisata, komunitas budaya, hingga UMKM dalam memperkuat posisi Belitung sebagai destinasi wisata unggulan nasional bahkan internasional.
Gubernur Kepulauan Bangka Belitung, Hidayat Arsani, yang membuka langsung festival tersebut menegaskan pentingnya menjaga tradisi menyirih sebagai identitas budaya masyarakat Melayu Belitung.
Sementara itu, Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Rifki Ismail, mengatakan dibukanya akses penerbangan internasional menjadi peluang besar yang harus dimanfaatkan seluruh pelaku wisata dan UMKM lokal.
“Dengan terbukanya rute penerbangan internasional di Bandar Udara H.A.S. Hanandjoeddin, kami berharap sektor pariwisata Belitung dapat semakin berkembang dan memberikan dampak positif terhadap perputaran ekonomi masyarakat,” ujarnya.
Tak hanya berhenti pada festival budaya, BI Babel juga langsung bergerak memperkuat ekosistem pariwisata melalui Focus Group Discussion (FGD) yang digelar pada 19 Mei 2026. Forum tersebut mempertemukan Dinas Pariwisata, Dinas Koperasi dan UMKM, pengelola desa wisata, perhotelan, hingga pelaku usaha lokal untuk membahas strategi memperkuat pariwisata Belitung.
Menariknya, forum ini tidak sekadar diskusi. Sejumlah pelaku UMKM bahkan berhasil menjalin kerja sama langsung dengan hotel dan desa wisata untuk memperluas pemasaran produk lokal.
FGD turut dihadiri Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten Belitung, Annyta, serta Plt Sekretaris Dinas Pariwisata Kabupaten Belitung, Adi.
Dalam forum tersebut, sejumlah tantangan dan peluang pengembangan pariwisata dibahas, mulai dari penguatan branding wisata Belitung, peningkatan kualitas layanan, hingga pembenahan hospitality dan aksesibilitas wisatawan.
Tak kalah penting, BI Babel juga menggandeng Kampung Inggris Babel untuk melatih kemampuan Bahasa Inggris praktis bagi lebih dari 30 pelaku pariwisata dari berbagai desa wisata di Belitung.
Pelatihan yang berlangsung di kawasan wisata Tanjung Tinggi itu dinilai penting agar para pelaku wisata lebih siap menyambut wisatawan mancanegara pasca dibukanya jalur internasional.
Melalui berbagai langkah tersebut, Bank Indonesia berharap Belitung tidak hanya menjadi destinasi wisata yang indah, tetapi juga memiliki ekosistem pariwisata yang kuat, profesional, dan mampu memberikan dampak ekonomi berkelanjutan bagi masyarakat lokal.