
Menurutnya, setiap hari Sabtu bank sampah mampu membeli 300–400 kilogram sampah yang terdiri dari botol minuman, cangkir plastik, kardus, dan berbagai jenis sampah non organik lainnya.
Selain membeli sampah, kelompok ini juga mengolahnya menjadi berbagai produk kreatif seperti tas berbahan kemasan deterjen, alas keranjang, hingga kerajinan dari botol plastik. Produk ini sebelumnya dibantu dipasarkan oleh ibu-ibu PKK, namun belakangan pemasaran menjadi tantangan tersendiri.
“Sekarang kami terkendala dalam pemasaran produk, biasanya kami membuat seperti tas dari bungkus Rinso, tempat minuman, dan alas keranjang cukup diminati,” kata Mastura.
Bantuan motor sampah dari PT Timah Tbk dinilai sangat membantu kegiatan operasional karena memungkinkan petugas menjangkau rumah-rumah warga hingga ke gang-gang kecil.
“Selama ini kami mengambil sampah pakai motor besar itu enggak bisa masuk ke gang-gang kecil. Motor baru ini sangat dibutuhkan karena jalurnya masuk gang sempit. Dengan adanya motor sampah ini, lebih enak dan kami bisa menambah pelanggan,” ujar Mastura.