
“Kita berdialog agar semua ormas bisa saling memberikan pemikiran dan juga solusi untuk masyarakat dan penyelesaiannya di masyarakat tentunya,” ucapnya kepada intrik.id.
Tumiran juga menyebutkan, dalam dialog ini digabungkan antara kalangan muda dan tua bisa saling berdialog dan mampu memberikan satu kesatuan pemikiran yang dapat diterima secara umum oleh publik dan tidak bertendensi dengan satu instansi.
“Jangan sampai ada tendensius dengan seuzon satu baju yang dipakai seperti bilang ini punya si A, ini si B lah, tapi gunakan pemikiran yang semua orang menerima tanpa ada yang seuzon tapi mengedepankan nilai-nilai keagamaan dengan menyatukan nilai kebangsaan atas dasar perjuangan sebagai warga Republik Indonesia,” ujarnya.