
Menurutnya, pohon angsana juga relatif mudah untuk perawatannya. Apalagi kata dia, tanah Bangka memiliki keunikan yang cocok untuk ditanami berbagai jenis tanaman seperti akasia.
“Jenis angsana bisa tumbuh dengan sangat pesat kalau di Bangka. Nantinya, dari dahan-dahan ini dapat dilakukan pruning yang bisa menjadi bahan baku woodchip. Penurunan emisi yang diharapkan di tahun 2030 yaitu 400 juta ton CO2, nah kalau angsana ini jika tingginya sudah 10 meter bisa menghasilkan 270 kg O2, jika dihitung-hitung bisa menghidupi sekitar 200 orang perhari, tentu ini akan sangat mendukung sekali terhadap lingkungan,” jelas Widi.
Ia juga berharap kedepannya PT Timah Tbk dapat terus mendukung dan turut menyukseskan program dari Pemerintah tersebut.
“Konsep dari Bio Energi yang kami kembangkan adalah mengembangkan hutan energi diluar kawasan hutan karena ini akan melibatkan langsung masyarakat setempat, jika saat ini PLTU membeli batubara dari luar Bangka, degan adanya konsep ini maka masyarakat Bangka bisa ikut mensuplai kayu,” ucapnya.
Dirinya mengapresiasi PT Timah yang telah berkolaborasi dengan Pemerintah Kabupaten Bangka dan PLN yang telah mengembangkan program ini sehingga dapat mendukung program Pemerintah dalam mewujudkan ketahanan energi.
Sementara itu, Asmen Operasi Pemeliharaan dan Pembangkit PT PLN Persero UPK Babel, Fajri Hutazami mengatakan jika program ini adalah salah satu bentuk sinergi BUMN, dimana program penanaman PT Timah Tbk ini sangat mendukung program PT PLN yakni Co-firing.