
Hal senada disampaikan Wakil Kepala SMP Negeri 2 Sungaiselan, Risky Fuji Lestari. Menurutnya, pembelajaran tersebut memberikan pengalaman langsung kepada siswa untuk mengenal budaya yang ada di daerah mereka.
“Siswa tidak hanya melihat dan mendengar, tetapi dapat berinteraksi langsung dengan budaya yang ada di daerahnya. Dari sini mereka belajar sejarah sekaligus nilai gotong royong dan kebersamaan,” ungkap Risky.
Melalui pembelajaran tersebut, lesung tidak hanya dikenalkan sebagai alat tradisional, tetapi juga sebagai bagian dari cerita kehidupan masyarakat Lampur yang menyimpan nilai gotong royong dan kekeluargaan.
Sekolah berharap pengalaman tersebut membuat siswa tidak hanya mengenal sejarah budaya daerahnya, tetapi juga tumbuh kepedulian untuk menghargai dan melestarikan warisan budaya lokal yang semakin jarang ditemui.