Sebelum Lesung Tinggal Cerita, Siswa SMPN 2 Sungaiselan Belajar Budaya Lampur

    INTRIK.ID, BANGKA TENGAH — Lesung penumbuk padi yang dahulu menjadi bagian penting kehidupan masyarakat kini mulai jarang ditemui. Kondisi itu mendorong SMP Negeri 2 Sungaiselan mengenalkan kembali alat tradisional tersebut kepada para siswa melalui pembelajaran budaya di lingkungan Desa Lampur, Kecamatan Sungaiselan.

    Bukan sekadar mengenalkan bentuk dan fungsi lesung, siswa diajak memahami bagaimana alat tersebut digunakan masyarakat pada masa lalu untuk mengolah padi hingga menjadi beras.

    Narasumber kegiatan, Mang Dur, menjelaskan bahwa lesung dahulu menjadi alat utama masyarakat untuk mengolah hasil pertanian.

    “Dulu lesung ini merupakan satu-satunya alat yang digunakan masyarakat untuk mengolah padi menjadi beras. Orang tua kita dulu menanam padi di ladang atau biasa disebut hume, kemudian hasilnya berupa padi ditumbuk menggunakan lesung dan alu sehingga menjadi beras,” jelasnya di Sungaiselan, Rabu (30/9/2026).

    Menurutnya, aktivitas menumbuk padi tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan pangan. Kegiatan tersebut juga menjadi ruang masyarakat untuk saling membantu dan mempererat hubungan.

    “Dari kegiatan itu tumbuh kebersamaan, keakraban, dan rasa kekeluargaan yang tinggi karena saling membantu,” ujarnya.

    Kepala SMP Negeri 2 Sungaiselan, Deni Andriyanto, mengatakan budaya lokal merupakan sumber belajar yang dekat dengan kehidupan peserta didik.

    “Kami ingin siswa mengenal budaya yang ada di lingkungan mereka. Dengan belajar secara langsung, pembelajaran menjadi lebih kontekstual dan bermakna,” kata Deni.

    Ia menilai pengenalan budaya lokal penting agar generasi muda tidak kehilangan hubungan dengan akar budaya di daerahnya.

    “Belajar tidak harus selalu di dalam kelas. Dari lingkungan, dari budaya, siswa bisa belajar sejarah, karakter, dan nilai-nilai kehidupan. Ini yang ingin terus kami kembangkan di SMPN 2 Sungaiselan,” tegasnya.

    Hal senada disampaikan Wakil Kepala SMP Negeri 2 Sungaiselan, Risky Fuji Lestari. Menurutnya, pembelajaran tersebut memberikan pengalaman langsung kepada siswa untuk mengenal budaya yang ada di daerah mereka.

    “Siswa tidak hanya melihat dan mendengar, tetapi dapat berinteraksi langsung dengan budaya yang ada di daerahnya. Dari sini mereka belajar sejarah sekaligus nilai gotong royong dan kebersamaan,” ungkap Risky.

    Melalui pembelajaran tersebut, lesung tidak hanya dikenalkan sebagai alat tradisional, tetapi juga sebagai bagian dari cerita kehidupan masyarakat Lampur yang menyimpan nilai gotong royong dan kekeluargaan.

    Sekolah berharap pengalaman tersebut membuat siswa tidak hanya mengenal sejarah budaya daerahnya, tetapi juga tumbuh kepedulian untuk menghargai dan melestarikan warisan budaya lokal yang semakin jarang ditemui.

      Ikuti kami di Facebook