SBY Atasi Asap Riau dalam 3 Minggu, Prabowo Bagaimana?

    Caption: Kebakaran hutan. (Ist)

    JAKARTA, INTRIK.ID – Tiga minggu menjadi catatan penting penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Riau pada era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Pada Maret 2014, operasi terpadu yang melibatkan BNPB, TNI, dan sejumlah instansi berhasil menekan titik api hingga mendekati akhir masa operasi.

    Kini, lebih dari satu dekade berselang, Presiden Prabowo Subianto menghadapi tantangan serupa. Kebakaran melanda sejumlah wilayah Indonesia pada 2026, sementara kabut asap memicu gangguan kesehatan dan meluas hingga negara tetangga.

    Perbandingan dua pemerintahan ini memunculkan pertanyaan: jika operasi penanganan asap Riau pada era SBY menunjukkan hasil dalam tiga minggu, bagaimana efektivitas penanganan karhutla pada era Prabowo?

    Era SBY: Operasi Tiga Minggu, Titik Api Turun

    Pada Maret 2014, SBY menginstruksikan peningkatan intensitas operasi terpadu untuk menangani kebakaran dan kabut asap di Riau selama tiga minggu. Operasi dimulai pada 14 Maret dan dijadwalkan berakhir pada 4 April 2014, dengan kemungkinan diperpanjang apabila kondisi mengharuskan.

    Penanganan tidak hanya berfokus pada pemadaman. Pemerintah juga mengerahkan personel untuk pelayanan kesehatan, modifikasi cuaca, pemadaman melalui udara, patroli darat, dan penegakan hukum terhadap pelaku pembakaran.

    Hasilnya mulai terlihat menjelang akhir Maret. BNPB melaporkan pemantauan satelit NOAA tidak mendeteksi titik api di Riau pada 30 Maret. Namun, data satelit Terra dan Aqua masih menemukan 12 titik api.

    Asap pun belum sepenuhnya hilang. BNPB mencatat masih terdapat bara di dalam lahan gambut yang menyebabkan asap tipis tetap muncul di sejumlah daerah.

    Pada 4 April 2014, setelah tiga minggu operasi, komando dan tanggung jawab pemeliharaan kondisi diserahkan kepada Gubernur Riau dengan dukungan pemerintah pusat.

    Pages: 1 2 3
      Ikuti kami di Facebook