
Kyushu Institute of Technology dipilih karena memiliki kesesuaian bidang penelitian dengan rencana riset yang ingin dikembangkan Marhan. Jepang juga dinilainya memiliki ekosistem penelitian dan pengembangan teknologi yang mendukung minat akademiknya.
Selain memperdalam kemampuan penelitian, studi doktoral tersebut menjadi kesempatan bagi Marhan membangun jejaring akademik internasional dan mengembangkan riset multidisipliner.
Pengalaman berkali-kali gagal dalam seleksi membuat Marhan menilai kegagalan bukan sebagai akhir, melainkan bagian dari proses.
Ia mengajak mahasiswa, khususnya mahasiswa Fisika UBB, mulai mempersiapkan diri sejak dini dengan mencari informasi beasiswa, menentukan tujuan akademik, membangun pengalaman penelitian, serta meningkatkan kemampuan bahasa Inggris.
“Jangan menunggu sampai merasa benar-benar siap untuk mencoba. Ketika saya pertama kali mencoba mendapatkan beasiswa, saya juga belum mengetahui apakah saya akan berhasil,” katanya.
Setelah menyelesaikan studi doktoral, Marhan berharap dapat kembali berkontribusi di Indonesia melalui dunia akademik dan penelitian. Ia juga ingin membangun kolaborasi internasional serta membuka lebih banyak peluang bagi mahasiswa Indonesia, khususnya dari daerah, untuk melanjutkan pendidikan ke tingkat global.
Perjalanan dari penerima Bidikmisi hingga penerima beasiswa MEXT menunjukkan bahwa keterbatasan ekonomi dan kegagalan dalam seleksi tidak otomatis menutup jalan menuju pendidikan internasional.