
“Ini bentuk ketidakadilan. Kami bayar retribusi, kami cari nafkah di sini setiap hari. Tapi begitu ada acara, kami yang disuruh minggir. Seolah-olah kami ini tidak penting,” katanya.
Taufik juga mempertanyakan belum adanya lokasi alternatif yang dianggap layak untuk menampung kegiatan berskala besar seperti pawai dan karnaval.
“Sampai kapan Bangka Tengah krisis lapangan? Tidak punya tempat yang layak untuk pawai dan karnaval, akhirnya jalan menuju Pasar Modern Koba yang dipakai. Padahal ini urat nadi ekonomi kami,” ujarnya.
Ia mengatakan pedagang kecil berada dalam posisi sulit karena tidak memiliki banyak pilihan ketika akses pasar ditutup.
“Kami ini pedagang kecil. Mana mampu melawan penguasa. Protes tiap tahun, jawabannya normatif, tahun depan katanya dicarikan solusi. Tapi faktanya nihil. Nol besar,” sindirnya.