Scroll untuk baca artikel
Opini

Orang Pintar Belum Tentu Terdidik

350
×

Orang Pintar Belum Tentu Terdidik

Sebarkan artikel ini
20230531 202026
Foto: Luthfia Gita Sabrina.

Luthfia Gita Sabrina
Mahasiswa Fakultas Ekonomi, Prodi Akuntansi, Universitas Bangka Belitung

Orang dapat beranggapan bahwa kecerdasan atau keintelektualan seseorang tidak cukup untuk dikatakan bahwa mereka telah terdidik dengan baik. Mungkin orang pintar memiliki pengetahuan atau kemampuan yang luar biasa dalam bidang tertentu contohnya akademik, tetapi kata “terdidik” mencakup lebih dari sekadar pengetahuan akademis. Terdidik juga mencakup kemampuan seseorang berpikir kritis, memiliki nilai-nilai etika yang kuat, keterampilan sosial yang baik, dan kemampuan untuk mengaplikasikan pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, seseorang yang hanya pintar dalam hal akademik belum tentu memiliki semua aspek dari hal-hal tersebut, sehingga perlu dikatakan bahwa mereka belum terdidik secara menyeluruh.

Tetapi, orang pintar juga dapat menjadi orang yang terdidik jika mereka mampu mengembangkan pengetahuan dan keterampilan mereka dalam berbagai aspek kehidupan. Kecerdasan intelektual dapat menjadi salah satu indikator utama dari seseorang yang terdidik, dan mereka dapat menggunakan kecerdasan itu untuk belajar, berkembang, dan berkontribusi dalam masyarakat. Orang pintar juga dapat memiliki kemampuan untuk mempelajari nilai-nilai etika dan berinteraksi secara sosial dengan baik, sehingga masih memungkinkan untuk mengatakan bahwa mereka adalah orang yang terdidik.

Penting untuk diingat bahwa hubungan antara kecerdasan dan pendidikan dapat bervariasi tergantung pada pandangan dan pengalaman masing-masing individu.

Seperti di sekolah hingga perguruan tinggi, untuk mendaptkan gelar doctor atau bahkan profesor nyatanya belum cukup untuk mengubah tindakan seseorang. Mungkin benar, kebanyakan sekolah hingga perguruan tinggi di Indonesia sudah berhasil menghasilkan orang-orang pintar. Akan tetapi, tidak menjamin orang-orang pintar tadi menjadi terdidik. Contohnya sudah banyak sekali diluar sana orang-orang yang katanya “pintar” telah melakukan kejahatan bahkan harus di penjara selama beberapa waktu lamanya.
Seperti yang sudah telah kita ketahui bahwa sistem pendidikan umum di Indonesia hanya mengajarkan pada  bidang keilmuan seperti pengetahuan dan teknologi saja, dengan ilmu-ilmu inilah orang menjadi semakin pintar. Dan sangat disayangkan sekali, saat ini pendidikan mengenai budi pekerti semakin dilupakan dan bahkan dianggap enteng atau remeh oleh orang-orang sehingga banyak yang pintar tetapi menjadi tidak terdidik.

Baca Juga:  Indonesia mengalami penurunan terhadap angka kemiskinan, Benarkah demikian?

Ini lah menngapa seperti yang telah saya katakan tadi, bahwahsanya banyak sekali pelaku-pelaku kejahtan yang terlahir atau didominasi oleh orang-orang “pintar”, contohnya ialah seperti para pelaku tindakan korupsi. Mungkin hanya beberapa dari kita yang dapat menemukan bahwasanya mantan narapidana masih saja mendapatkan kepercayaan atau bisa dibilang dipercaya dan diperbolehkan dalam memimpin sebuah instansi.

Tentu saja hal ini sangat memalukan, bahkan yang sangat memalukannya lagi, ini dianggap sebagai hal yang normal. Padahal jika kita pikir-pikir dan lihat, masih banyak orang-orang terdidik di luar sana yang mampu memimpin tetapi tidak terpilih.

Dan yah balik lagi ke diri kita sendiri, sebarnya kita harus berpedoman dengan dua hal, seperti dzikir dan fikir, karna jika kita hanya bisa berdzikir maka kita harus siap atau harus waspada, bisa jadi anda ditipu dan jadi bahan sasaran orang-orang yang hanya berfikir. Dan sebaliknya, jika kita hanya ada yang namanya fikir, maka dari itu kita juga harus waspada karna jika kita hanya terus-terus berfikir kita bisa mematipulasi seseorang seperti halnya yang saya katakana tadi yaitu “korupsi”, jadi kita harus punya dan memegang teguh dua hal tadi, yaitu seperti dzikir dan juga fikir.(*)

Home
Hot
Redaksi
Cari
Ke Atas