
Oleh: Bella Novianti A.Md (Aktivis Dakwah)
Tren bunuh diri di Indonesia semakin hari semakin meningkat. Pada tanggal 10 Oktober 2023, seorang mahasiswi Universitas Negeri Semarang, NJW (20), ditemukan tewas di jalur parkir. Diduga ia melompat dari lantai 4 Mal Paragon. Pada tanggal yang sama, seorang mahasiswi di salah satu perguruan tinggi di Kupang juga mengakhiri hidupnya beberapa saat sebelum wisuda.
Besoknya, Rabu 11 Oktober 2023, seorang mahasiswi yang juga karyawan, En (24) juga mengakhiri hiupnya sendiri di sebuah kos di Tembalang, Kota Semarang. Tak hanya mahasiswi, ada juga pelajar kelas 1 SMK di Bogor tewas mengakhiri hidupnya sendiri.
Banyaknya kasus bunuh diri menyita perhatian publik. Berdasarkan data kepolisian hingga 24 mei 2023 dari laman resmi pusiknas.polri.go.id menyebutkan di Indonesia ada 451 kasus bunuh diri. Terbanyak di Jateng :174 kasus, Jatim : 82 kasus, Bali : 42 kasus, Jabar : 31 kasus, IY : 22 kasus, dan Sumut : 18 kasus. Itu hanya kasus yang ditangani polda, belum kasus yang tidak tercatat. Kemungkinan lebih banyak lagi.
Peristiwa bunuh diri yang semakin marak semakin menguatkan fakta bahwa saat ini masyarakat banyak yang mengalami gangguan mental, hingga bisa disebut darurat kesehatan mental. Kenapa bisa terjadi darurat kesehatan mental? Apa faktor yang paling mendasar penyebab maraknya kasus bunuh diri?
Ada banyak faktor yang melatarbelakangi seseorang nekat bunuh diri. Salah satu faktor terbanyak adalah depresi karena persoalan hidup yang tidak kunjung usai. Makin banyaknya pemuda bunuh diri sesungguhnya menggambarkan realitas generasi hari ini. Mereka cenderung mengambil jalan pintas dengan bunuh diri untuk menyelesaikan masalah.
Mereka juga menjadi generasi yang mudah menyerah dalam menghadapi gelombang kehidupan. Alhasil, sikap putus asa, hopeless, stres, hingga depresi, menjadi penyakit mental yang mudah menghinggap dalam kehidupan mereka. Mereka berpikir dengan bunuh diri, semua beban masalah dan mental mereka akan terlepas dan berakhir.
Mengapa generasi kita menjadi seperti ini? Faktor utamanya ialah penerapan sistem sekuler kapitalisme yang gagal mewujudkan generasi kuat dan tangguh. Sistem ini mengeliminasi peran tiga pilar pembentuk generasi.
Pertama, keluarga. Generasi yang memiliki mental rapuh kebanyakan dialami oleh mereka yang lahir dan besar di lingkungan keluarga broken home, fatherless, motherless, atau hidup berjauhan dengan orang tua. Belakangan ini, ramai perbincangan terkait Indonesia yang disebut sebagai negara fatherless ketiga terbanyak di dunia. Orang tua ada, tetapi kehadiran mereka seperti tidak ada. Anak tidak merasakan peran dan kehadiran ayah atau ibunya, baik secara fisik maupun psikis.