
Seseorang yang memiliki kematangan emosional akan memahami konsep empati sosial:
Merespons kerja keras petugas dan sakralnya simbol negara dengan sikap main-main adalah indikator rendahnya empati dan respect (rasa hormat). Jika dalam lingkup kecil seperti barisan upacara saja kita gagal meregulasi diri, bagaimana kita akan mengelola tanggung jawab yang lebih besar dalam kehidupan bermasyarakat?
Dalam pendekatan konseling kognitif-perilaku (CBT), perubahan perilaku yang langgeng terjadi jika ada perubahan dalam struktur berpikir. Kita harus menggeser motivasi mengikuti upacara dari motivasi eksternal (takut ditegur pembina, takut dihukum, atau sekadar menggugurkan kewajiban) menjadi motivasi internal (kesadaran bahwa saya adalah bagian dari bangsa ini dan saya menghargai identitas saya).
Ketika teks Pancasila dilafalkan, itu bukan sekadar hafalan lisan, melainkan internalisasi nilai-nilai universal. Ketika doa dipanjatkan, itu adalah momen transendental untuk mengasah kecerdasan spiritual.
Melalui momentum Hari Kebangkitan Nasional ini, mari kita lakukan konseling kelompok secara massal untuk diri kita masing-masing melalui teknik refleksi diri. Sebelum melangkah ke lapangan upacara berikutnya, tanyakan pada diri sendiri:
Mari kita kembalikan marwah upacara. Belajarlah untuk hadir utuh (be present). Saat aba-aba “Siap Grak!” dikumandangkan, biarkan tubuh, pikiran, dan jiwa kita ikut siap. Tahan setiap dorongan untuk bercanda. Tunjukkan bahwa kita adalah individu-individu yang matang secara psikologis, kuat secara karakter, dan memiliki rasa hormat yang tinggi terhadap bangsa dan negara.