Menemukan Kembali “Presence” di Lapangan Upacara: Refleksi Psikologis dan Kontrol Diri dalam Bingkai Kebangkitan Nasional

    Nurviyanti Cholid, S. Sos. I., M. Pd. I

    Seseorang yang memiliki kematangan emosional akan memahami konsep empati sosial:

    • Mereka tahu ada petugas upacara yang berlatih berminggu-minggu menahan lelah demi mengibarkan bendera dengan presisi.
    • Mereka tahu ada nilai sejarah, darah, dan air mata yang diwakili oleh selembar kain Merah Putih.

    Merespons kerja keras petugas dan sakralnya simbol negara dengan sikap main-main adalah indikator rendahnya empati dan respect (rasa hormat). Jika dalam lingkup kecil seperti barisan upacara saja kita gagal meregulasi diri, bagaimana kita akan mengelola tanggung jawab yang lebih besar dalam kehidupan bermasyarakat?

    3. Internalisasi Nilai: Bukan Sekadar Patuh karena Takut Dihukum

    Dalam pendekatan konseling kognitif-perilaku (CBT), perubahan perilaku yang langgeng terjadi jika ada perubahan dalam struktur berpikir. Kita harus menggeser motivasi mengikuti upacara dari motivasi eksternal (takut ditegur pembina, takut dihukum, atau sekadar menggugurkan kewajiban) menjadi motivasi internal (kesadaran bahwa saya adalah bagian dari bangsa ini dan saya menghargai identitas saya).

    Ketika teks Pancasila dilafalkan, itu bukan sekadar hafalan lisan, melainkan internalisasi nilai-nilai universal. Ketika doa dipanjatkan, itu adalah momen transendental untuk mengasah kecerdasan spiritual.

    Sebuah Seruan Konseling: Bangkitkan Kesadaran Diri Anda

    Melalui momentum Hari Kebangkitan Nasional ini, mari kita lakukan konseling kelompok secara massal untuk diri kita masing-masing melalui teknik refleksi diri. Sebelum melangkah ke lapangan upacara berikutnya, tanyakan pada diri sendiri:

    • “Apakah saya sudah menjadi pribadi yang merdeka, atau saya masih dijajah oleh kemalasan dan ketidakmampuan mengendalikan diri sendiri?”
    • “Apakah sikap saya di dalam barisan mencerminkan seorang tunas bangsa yang siap membawa perubahan, atau justru memperlihatkan pribadi yang rapuh?”

    Mari kita kembalikan marwah upacara. Belajarlah untuk hadir utuh (be present). Saat aba-aba “Siap Grak!” dikumandangkan, biarkan tubuh, pikiran, dan jiwa kita ikut siap. Tahan setiap dorongan untuk bercanda. Tunjukkan bahwa kita adalah individu-individu yang matang secara psikologis, kuat secara karakter, dan memiliki rasa hormat yang tinggi terhadap bangsa dan negara.

    Pages: 1 2 3 4
      Ikuti kami di Facebook