Lahir di Singapura, Pilih Jadi WNI: Kisah Low Tuck Kwong Membangun Kerajaan Batu Bara di Indonesia

    Caption: Low Tuck Kwong. (Ist)

    INTRIK.ID, JAKARTA — Tidak semua orang yang lahir di negara maju bercita-cita membangun kekayaannya di negara tersebut. Low Tuck Kwong justru mengambil jalan berbeda.

    Lahir di Singapura pada 17 April 1948, Low Tuck Kwong memilih merantau ke Indonesia pada 1972. Dua dekade kemudian, tepatnya pada 1992, ia resmi menjadi Warga Negara Indonesia (WNI).

    Keputusan itu menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan hidupnya. Dari seorang pengusaha konstruksi yang merintis bisnis di Indonesia, Low kemudian membangun kerajaan bisnis pertambangan batu bara melalui Bayan Resources.

    Kini, namanya dikenal sebagai salah satu konglomerat terkaya di Indonesia.

    Kisah Low bukan sekadar cerita tentang orang asing yang sukses berbisnis di Indonesia. Lebih jauh, perjalanan tersebut memperlihatkan bagaimana potensi pasar, sumber daya alam, dan peluang investasi Indonesia dapat menjadi magnet bagi pengusaha yang memiliki visi jangka panjang.

    Melihat peluang Indonesia sejak 1972

    Sebelum membangun bisnis di Indonesia, Low Tuck Kwong sudah mengenal dunia usaha sejak usia muda.

    Ia tumbuh dalam keluarga pengusaha konstruksi. Ayahnya, Low Sum, menjalankan bisnis konstruksi yang memiliki kegiatan usaha di Singapura dan Malaysia.

    Low ikut terlibat dalam pekerjaan perusahaan keluarga tersebut. Namun, ia tidak sekadar ingin meneruskan bisnis yang sudah ada.

    Pada 1972, ia memutuskan pindah ke Indonesia untuk mencari peluang usaha yang lebih luas.

    Saat itu, Indonesia memiliki wilayah yang jauh lebih besar dengan kebutuhan pembangunan infrastruktur yang terus berkembang. Kondisi tersebut membuka peluang bagi perusahaan konstruksi dan pekerjaan sipil.

    Setahun kemudian, pada 1973, Low mendirikan PT Jaya Sumpiles Indonesia (JSI).

    Perusahaan tersebut bergerak di bidang pekerjaan tanah, konstruksi sipil, serta struktur kelautan. Bisnisnya kemudian berkembang dan dikenal dalam pekerjaan fondasi serta proyek-proyek konstruksi berskala besar.

    Langkah Low memperlihatkan bahwa ia tidak langsung membangun bisnis pertambangan. Ia memulai dari sektor yang sudah dikuasainya, kemudian memperluas usahanya setelah memahami karakter pasar Indonesia.

    Dari kontraktor menjadi pemain batu bara

    Titik perubahan bisnis Low terjadi pada 1988.

    PT Jaya Sumpiles Indonesia mulai memasuki sektor kontraktor pertambangan batu bara. Pengalaman tersebut membuatnya semakin memahami industri pertambangan, mulai dari kegiatan operasional hingga tantangan distribusi hasil tambang.

    Namun, Low melihat ada peluang yang lebih besar daripada sekadar menjadi kontraktor.

    Selama menjadi penyedia jasa pertambangan, perusahaan memperoleh pendapatan dari pekerjaan yang dilakukan. Sementara pemilik tambang memiliki kendali lebih besar terhadap sumber daya dan hasil produksinya.

    Low kemudian mengambil langkah untuk masuk ke bisnis kepemilikan tambang.

    Pada 1997, ia mengakuisisi tambang batu bara Gunungbayan Pratamacoal di Kalimantan Timur. Pengembangan bisnis tersebut kemudian diperkuat dengan penguasaan fasilitas terminal batu bara melalui PT Dermaga Perkasapratama.

    Bayan Group selanjutnya berkembang menjadi perusahaan pertambangan batu bara terintegrasi.

    Pada 2004, Bayan Resources didirikan sebagai bagian penting dari pengembangan bisnisnya. Perusahaan tersebut kemudian melantai di Bursa Efek Indonesia pada 2008.

    Langkah tersebut mengubah posisi Low dari pengusaha konstruksi menjadi salah satu pemain penting dalam industri batu bara nasional.

    Mengapa Low Tuck Kwong memilih menjadi WNI?

    Salah satu bagian paling menarik dari perjalanan Low adalah perubahan kewarganegaraannya.

    Menurut profil Bloomberg, Low resmi menjadi WNI pada 1992, setelah sekitar 20 tahun tinggal dan membangun bisnis di Indonesia.

    Pages: 1 2 3
      Ikuti kami di Facebook