
Ada alasan bisnis yang cukup penting di balik keputusan tersebut.
Dalam laporan Forbes tahun 2009, dijelaskan bahwa pada masa itu kepemilikan konsesi pertambangan di Indonesia menghadapi pembatasan bagi warga negara asing. Perubahan kewarganegaraan menjadi salah satu langkah yang ditempuh Low untuk dapat mengembangkan bisnis tambangnya.
Lima tahun setelah menjadi WNI, ia mengakuisisi tambang batu bara pertamanya.
Dengan demikian, perubahan kewarganegaraan tersebut tidak bisa dilepaskan dari perjalanan dan strategi bisnisnya di Indonesia.
Namun, penting dicatat bahwa kisah Low merupakan keputusan individual. Tidak berarti setiap pengusaha asing harus menjadi WNI untuk menjalankan kegiatan usaha di Indonesia.
Kesuksesan Low Tuck Kwong tidak hanya diukur dari kepemilikan tambang.
Bayan Resources berkembang menjadi salah satu perusahaan batu bara besar di Indonesia dengan kegiatan usaha yang terhubung dari pertambangan hingga fasilitas pengangkutan dan terminal.
Menurut Bloomberg Billionaires Index, Bayan Resources memproduksi sekitar 56,9 juta ton batu bara dan membukukan pendapatan Rp54,7 triliun sepanjang 2024.
Bloomberg juga mencatat bahwa sebagian besar kekayaan Low berasal dari kepemilikannya di Bayan Resources.
Selain bisnis batu bara, Low memiliki kepentingan usaha di sejumlah sektor lain.
Di antaranya adalah Metis Energy, perusahaan energi yang berbasis di Singapura, serta kepentingan investasi di bidang sumber daya dan layanan kesehatan.
Ia juga mendukung pengembangan SEAX Global, perusahaan yang membangun jaringan kabel bawah laut untuk menghubungkan konektivitas internet Singapura, Indonesia, dan Malaysia.
Artinya, meskipun telah menjadi WNI dan membangun kekayaan utamanya melalui perusahaan Indonesia, jaringan bisnis Low tetap memiliki jangkauan lintas negara.
Kisah Low menghadirkan pertanyaan menarik: mengapa pengusaha kelahiran Singapura justru melihat peluang besar di Indonesia?
Jawabannya tidak bisa disederhanakan hanya karena Indonesia memiliki sumber daya alam.
Ada sejumlah faktor ekonomi yang membuat Indonesia memiliki daya tarik tersendiri bagi investor.
1. Kekayaan sumber daya alam
Indonesia memiliki cadangan batu bara, nikel, tembaga, emas, minyak, dan berbagai komoditas lainnya.
Kekayaan tersebut membuka peluang bisnis dari kegiatan eksplorasi, pertambangan, pengolahan, transportasi hingga perdagangan internasional.
Singapura sendiri memiliki keterbatasan sumber daya alam dan lebih mengandalkan perdagangan, jasa keuangan, logistik, serta industri bernilai tambah.
2. Pasar domestik yang besar
Jumlah penduduk Indonesia memberikan potensi pasar yang luas.
Kebutuhan terhadap energi, infrastruktur, transportasi, perumahan, dan berbagai produk industri menciptakan peluang usaha dalam jangka panjang.