
PIP akan menyediakan akses pembiayaan dana bergulir melalui lembaga keuangan mikro, koperasi maupun Badan Usaha Milik Desa.
Sementara untuk meningkatkan kesiapan produk memasuki pasar ekspor, PIP berkolaborasi dengan Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI), termasuk dalam pendampingan standardisasi produk.
“Pemberdayaan ini kita kolaborasi juga dengan LPEI. Nanti masyarakat belajar terkait bagaimana standardisasi produk untuk sasaran ekspor,” katanya.
Dengan demikian, tantangan Desa Devisa tidak hanya memastikan produk bisa dikirim ke luar negeri. Kualitas, kontinuitas produksi, standardisasi dan akses pasar juga menjadi pekerjaan yang harus dijaga agar peluang ekspor tidak berhenti sebagai seremoni pelepasan komoditas.
Bagi petani lada Sungkap, targetnya bukan sekadar sekali menembus pasar Belanda. Mereka ingin komoditas yang pernah menjadi salah satu andalan daerah tersebut kembali memiliki daya saing dan pasar yang lebih luas.
Melalui sinergi pemerintah daerah, PIP, LPEI, pemerintah desa dan petani, program Desa Devisa kini diuji pada tahap berikutnya: mampukah peluang pasar global tersebut diikuti dengan produksi yang konsisten, kualitas yang memenuhi standar, dan pasar yang berkelanjutan bagi petani?