Lada Bangka Tengah Tembus Belanda, Petani Masih Kejar Bibit Unggul dan Pasar

    Caption: Butiran lada Bangka. (Ist)

    INTRIK.ID, BANGKA TENGAH – Lada putih Bangka Tengah mulai menembus pasar global dengan Belanda menjadi salah satu tujuan pemasaran. Namun, di balik peluang ekspor tersebut, petani masih menghadapi pekerjaan rumah untuk memperbaiki kualitas bibit dan memperluas akses pasar.

    Persoalan itu mengemuka bersamaan dengan penetapan dan penguatan Desa Devisa di Bangka Tengah yang ditandai penandatanganan Nota Kesepakatan antara Pemerintah Kabupaten Bangka Tengah dan Badan Layanan Umum Pusat Investasi Pemerintah (BLU PIP) di Gedung Serba Guna Kecamatan Namang, Selasa (29/9/2026).

    Untuk pertama kalinya, lada putih Bangka Tengah diluncurkan sebagai komoditas unggulan Desa Devisa dan dipasarkan ke pasar global, salah satunya Belanda.

    Bupati Bangka Tengah, Algafry Rahman, mengatakan program tersebut tidak hanya diarahkan untuk membuka pasar ekspor, tetapi juga memperkuat ekosistem usaha masyarakat dari hulu hingga hilir.

    “Alhamdulillah, kali ini kita menandatangani Nota Kesepakatan dengan PIP. Untuk pertama kalinya, kita juga meluncurkan komoditas lada sebagai Desa Devisa. Salah satu produknya adalah lada putih yang hari ini kita lepas untuk dipasarkan ke pasar global,” ujarnya.

    Namun, ekspor bukan berarti persoalan petani lada telah selesai.

    Mintarya, Ketua Gapoktan Latih Asri Desa Sungkap, yang membina 17 kelompok tani dengan lahan sekitar 50 hektare dan produksi 10–15 ton lada per tahun, menyebut masih ada pekerjaan yang harus dibenahi.

    “Harapannya Desa Devisa ini bisa membuat lada Sungkap bisa kembali menjadi idola. Kita akan perbaiki dulu varietas bibitnya dan memperluas akses pemasaran,” ungkapnya.

    Tiga Komoditas, 10 Desa

    Program Desa Devisa Bangka Tengah tidak hanya menyasar komoditas lada. Pemerintah daerah menyiapkan tiga komoditas unggulan, yakni lada putih, lidi nipah dan produk olahan ikan.

    Ketiga komoditas tersebut dikembangkan melalui 10 desa yang disesuaikan dengan potensi masing-masing wilayah.

    Sepuluh desa tersebut meliputi Sungkap, Keretak Atas, Namang, Kurau Barat, Kebintik, Benteng, Sungaiselan, Kurau, Air Mesu dan Air Mesu Timur.

    Algafry mengatakan masing-masing wilayah diarahkan mengembangkan potensi yang dimiliki.

    “Selain lada putih, kita ada lidi nipah dan produk olahan ikan. Jadi tiga komoditas ini memang sudah ingin kita siapkan. Ada 10 Desa Devisa di Bangka Tengah,” jelasnya.

    Ekspor Butuh Standar

    Sementara itu, Direktur Utama PIP Direktorat Jenderal Perbendaharaan Kementerian Keuangan RI, Ismed Saputra, mengatakan peran PIP tidak berhenti pada penyediaan pembiayaan.

    PIP akan menyediakan akses pembiayaan dana bergulir melalui lembaga keuangan mikro, koperasi maupun Badan Usaha Milik Desa.

    Sementara untuk meningkatkan kesiapan produk memasuki pasar ekspor, PIP berkolaborasi dengan Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI), termasuk dalam pendampingan standardisasi produk.

    “Pemberdayaan ini kita kolaborasi juga dengan LPEI. Nanti masyarakat belajar terkait bagaimana standardisasi produk untuk sasaran ekspor,” katanya.

    Dengan demikian, tantangan Desa Devisa tidak hanya memastikan produk bisa dikirim ke luar negeri. Kualitas, kontinuitas produksi, standardisasi dan akses pasar juga menjadi pekerjaan yang harus dijaga agar peluang ekspor tidak berhenti sebagai seremoni pelepasan komoditas.

    Bagi petani lada Sungkap, targetnya bukan sekadar sekali menembus pasar Belanda. Mereka ingin komoditas yang pernah menjadi salah satu andalan daerah tersebut kembali memiliki daya saing dan pasar yang lebih luas.

    Melalui sinergi pemerintah daerah, PIP, LPEI, pemerintah desa dan petani, program Desa Devisa kini diuji pada tahap berikutnya: mampukah peluang pasar global tersebut diikuti dengan produksi yang konsisten, kualitas yang memenuhi standar, dan pasar yang berkelanjutan bagi petani?

      Ikuti kami di Facebook