
“Saya dapat memahaminya (pemerintah Uzbekistan tetap menutup Jembatan Persahabatan), karena Uzbekistan berusaha mencegah arus pengungsi dan juga kemungkinan Taliban (membonceng pengungsi) memasuki Uzbekistan,” ujarnya lagi.
Bagi Teguh yang kini memimpin Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI), perjalanan ke Uzbekistan adalah pengalaman yang luar biasa dan akan tetap dikenangnya.
“Itu adalah perjalanan pertama saya ke luar negeri sebagai wartawan. Saat itu saya baru berusia 25 tahun, masih muda. Sangat sehat. Juga tidak mengkhawatirkan risiko apapun,” sambungnya.
Teguh yang sedang menyelesaikan studi doktoral di Jurusan Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran (Unpad) berharap suatu hari ini dirinya dapat kembali ke Uzbekistan.
“Saya berharap satu saat nanti, entah kapan, saya bisa kembali ke Termez untuk menyelesaikan mimpi saya, melanjutkan perjalanan ke Afganistan. Menyeberangi Amu Darya menuju Hairaton lalu Mazar I Syarif, dan selanjutnya ke Kabul,” demikian Teguh Santosa. []