
Setelah ditelaah keadaan ini disebabkan oleh penyakit tanaman lada, biaya produksi yang kian tinggi, bibit yang mahal, dan perubahan iklim global. Kondisi tersebut telah mempengaruhi produksi lada putih dan harga yang terus menurun sehingga telah ikut pula menurunkan semangat para petani lada.
Penyakit tanaman lada
Organisme Penganggu Tanaman (OPT) merupakan salah satu pembatas bagi produksi dan produktivitas dalam budidaya tanaman lada di Indonesia, khususnya di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Gangguan OPT yang tidak terkendali dapat mengakibatkan kehilangan hasil produksi dan apabila terjadi eksplosi (ledakan) OPT dapat mengakibatkan gagal panen. Salah satu faktor yang menyebabkan turunnya produktivitas tersebut adalah adanya serangan penyakit kuning (Radophalus similis dan Meloidogyne incognita). Penyakit kuning merupakan penyakit endemik setelah penyakit busuk pangkal batang. Akibat serangan OPT tersebut, diperkirakan produksi lada menurun sekitar 30-40% dan mutu menjadi rendah sehingga berdampak pada rendahnya harga lada. Pengendalian yang dapat dilakukan petani lada adalah dengan penambahan aplikasi Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR) atau Rhizobakteri Pemacu Tumbuh Tanaman (RPTT) perlu dilakukan dalam pengendalian penyakit kuning pada lada. PGPR merupakan bakteri (bermanfaat) tanah yang mengkolonisasi daerah perakaran tanam dan mampu meningkatkan pertumbuhan tanaman. Aplikasi PGPR dilakukan 3 sampai 5 hari setelah pemberian Metabolit Sekunder.
Biaya produksi dan bibit yang kian tinggi