
“Kampung pasir, Jalan laut, Air hanyut, nambang dikampung sendiri tanah nenek moyangnya, masak kita ganggu. Lukman anak buah saya tetap harus saya bela. Lukman mengatakan bukan tidak setuju hanya saja diatur. Lukman mengakomodir omongan para guru , katanya mengajar harus teriak suara hilang. Lukman tidak datang kesini ( Jalan Laut – red ) dia takut, saya sudah bertekad kalian cincang sampai sejuta tetap datang kesini,” kata Johan Murod.
Sebagai Pejuang Provinsi Bangka Belitung, Johan Murod ingin rakyat sejahtera dari tambang.
“Saya pejuang Babel ingin rakyat sejahtera, dengan menambang pulang capek ajak istri makan direstoran. Setelah itu tidur aman kampung kita, Apalagi jelang bulan puasa, saur dan berbuka , isi kotak amal pakai uang tambang,” pungkasnya.
Tidak pajang lebar, Johan Murod dikenal juga sebagai panglima adat itu perintahkan, agar perwakilan masyarakat menghadap Kapolres Bangka bahas soal pertambangan.
“Habis ini ajak perwakilan menghadap Kapolres minta dioperasikan tambang jangan demo, kalau Kapolres keberatan menghadap Kapolda, ini perintah panglima adat Johan Murod,” tegasnya.