Jangan Biarkan Konflik Elite Menyandera Pemerintahan Babel

    Foto: ilustrasi pimpinan daerah. (Net)

    Lebih jauh lagi, kasus ini memperlihatkan betapa rapuhnya relasi politik pasca-pilkada. Harmoni yang sebelumnya dipertontonkan kepada publik bisa berubah menjadi persaingan terbuka ketika kepentingan politik dan kekuasaan mulai berbenturan. Ini menjadi pelajaran penting bahwa koalisi politik tanpa kedewasaan dan komitmen bersama hanya akan melahirkan konflik berkepanjangan.

    Karena itu, aparat penegak hukum harus bekerja ekstra hati-hati dan transparan dalam menangani perkara ini. Jangan sampai muncul kesan bahwa hukum sedang “dipinjam” untuk menyelesaikan pertarungan politik. Proses hukum harus benar-benar steril dari intervensi, tekanan, maupun kepentingan kekuasaan.

    Sementara itu, Gubernur Babel juga memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga stabilitas pemerintahan dan menjawab keresahan publik. Diam di tengah berkembangnya persepsi negatif justru akan memperkuat dugaan-dugaan yang beredar di masyarakat.

    Pada akhirnya, rakyat tidak terlalu peduli siapa yang menang dalam konflik elite ini. Yang mereka inginkan sederhana: pemerintahan yang bersih, stabil, dan bekerja untuk kepentingan masyarakat. Jangan sampai ego politik segelintir orang justru menyeret Babel ke dalam krisis kepercayaan yang lebih dalam.(red)

    Pages: 1 2 3Show All
      Ikuti kami di Facebook