Hari Santri 2026: Jangan Hanya Merayakan, Saatnya Negara Memastikan Masa Depan Santri!

    Robi Permana

    Santri harus dipersiapkan menjadi ilmuwan, pendidik, pengusaha, pemimpin, teknolog, dan profesional di berbagai bidang tanpa kehilangan nilai-nilai keislaman serta akhlak mulia. Mereka harus memiliki kemampuan untuk beradaptasi dengan perubahan zaman, sekaligus berpegang pada prinsip moral dalam mengambil keputusan.

    Dalam konteks pendidikan Muhammadiyah, cita-cita tersebut sejalan dengan ikhtiar melahirkan generasi yang berilmu, berkemajuan, berakhlak, dan memberikan manfaat bagi masyarakat. Pendidikan agama dan ilmu pengetahuan tidak semestinya dipertentangkan. Keduanya perlu berjalan beriringan untuk membentuk manusia yang memiliki keluasan wawasan sekaligus tanggung jawab moral.

    Namun, cita-cita tersebut tidak akan terwujud melalui slogan semata. Diperlukan pendidikan yang bermutu, guru yang kompeten, fasilitas yang memadai, perlindungan yang kuat, serta kolaborasi antara pemerintah, lembaga pendidikan, keluarga, dan masyarakat.

    Di sinilah ukuran keberhasilan peringatan Hari Santri seharusnya diletakkan. Bukan hanya pada jumlah peserta upacara, kemeriahan kegiatan, atau banyaknya ucapan selamat yang beredar di media sosial, melainkan pada kesungguhan kita membangun ekosistem pendidikan yang memungkinkan santri tumbuh, belajar, dan berkontribusi secara optimal.

    Jangan sampai kita begitu meriah merayakan Hari Santri, tetapi abai terhadap kualitas pendidikan dan masa depan mereka. Jangan sampai kita lantang berbicara tentang akhlak, tetapi menutup mata ketika kekerasan terjadi di lingkungan pendidikan.

    Jangan Biarkan Hari Santri Berhenti sebagai Seremoni

    Hari Santri Nasional seharusnya menjadi momentum untuk mengevaluasi sejauh mana bangsa ini telah memenuhi tanggung jawabnya terhadap generasi yang sedang dipersiapkan untuk masa depan.

    Santri memang memiliki tanggung jawab untuk terus belajar, menjaga akhlak, mengembangkan ilmu pengetahuan, dan mengambil peran dalam perubahan. Namun, tanggung jawab tersebut harus diimbangi dengan komitmen negara dalam menyediakan pendidikan yang bermutu, perlindungan yang memadai, dan kesempatan yang adil.

    Kita tidak bisa hanya membebankan tuntutan kepada santri tanpa membenahi lingkungan yang membentuk mereka. Generasi unggul tidak lahir dari slogan, tetapi dari proses pendidikan yang konsisten, dukungan yang nyata, serta keteladanan dari orang-orang dewasa dan para pemimpin bangsa.

    Selamat Hari Santri Nasional, 22 Oktober 2026.

    Mari menjadikan peringatan ini sebagai momentum untuk bertindak, bukan sekadar mengenang sejarah. Saatnya memperkuat kualitas pendidikan, memastikan perlindungan santri, memperluas akses terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi, serta membuka ruang yang lebih besar bagi mereka untuk berkontribusi.

    Sebab, “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas” bukan sekadar slogan peringatan. Tema tersebut merupakan tanggung jawab bersama yang harus dibuktikan melalui kebijakan yang berpihak, pendidikan yang bermutu, perlindungan yang nyata, dan pengabdian kepada kemanusiaan.

    Pages: 1 2 3 4
      Ikuti kami di Facebook