Hari Santri 2026: Jangan Hanya Merayakan, Saatnya Negara Memastikan Masa Depan Santri!

    Robi Permana

    Karena itu, santri perlu mendapatkan kesempatan yang luas untuk mengembangkan kemampuan di berbagai bidang. Jangan sampai latar belakang pendidikan pesantren justru menjadi batas bagi mereka untuk memasuki dunia sains, teknologi, ekonomi, maupun profesi lainnya.

    Perlindungan Santri Tidak Boleh Diabaikan

    Di balik harapan besar terhadap santri, terdapat tanggung jawab yang tidak boleh diabaikan: memastikan lingkungan pendidikan aman dari kekerasan, perundungan, dan pelecehan.

    Lembaga pendidikan seharusnya menjadi tempat tumbuhnya ilmu, karakter, dan kemanusiaan. Karena itu, disiplin tidak boleh dijadikan alasan untuk membenarkan tindakan yang merendahkan martabat peserta didik. Pendidikan karakter harus dibangun melalui keteladanan, pembiasaan, dan pembinaan yang mendidik, bukan melalui kekerasan.

    Pesantren, sekolah Islam, keluarga, masyarakat, dan pemerintah harus mengambil peran bersama dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang aman dan bermartabat. Setiap lembaga pendidikan perlu memiliki mekanisme pencegahan, pengaduan, dan penanganan yang jelas agar persoalan kekerasan tidak dibiarkan berlarut-larut.

    Santri berhak mendapatkan perlindungan tanpa kehilangan kesempatan untuk belajar dan berkembang. Mereka harus tumbuh menjadi generasi yang tangguh, mandiri, dan berakhlak, bukan generasi yang menjalani pendidikan dalam ketakutan.

    Perlindungan tersebut bukan bentuk kelemahan dalam mendidik. Sebaliknya, itulah wujud tanggung jawab moral dan pendidikan dalam memastikan bahwa ilmu, disiplin, dan pembentukan karakter berjalan seiring dengan penghormatan terhadap martabat manusia.

    Pemerintah Harus Membuktikan Keberpihakan

    Peringatan Hari Santri juga menjadi momentum untuk mengingatkan pemerintah bahwa dukungan terhadap santri tidak boleh berhenti pada pidato dan seremoni. Keberpihakan negara harus dapat dirasakan melalui kebijakan yang menjawab kebutuhan nyata di lapangan.

    Pemerataan akses pendidikan, peningkatan kualitas dan kesejahteraan guru, bantuan pendidikan yang tepat sasaran, perlindungan peserta didik, serta perluasan akses terhadap teknologi merupakan sejumlah hal yang perlu terus diperkuat.

    Pemerintah pusat dan daerah juga perlu memastikan bahwa lembaga pendidikan Islam, termasuk pesantren dan sekolah Muhammadiyah, memperoleh kesempatan berkembang secara adil sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

    Tentu, setiap lembaga pendidikan memiliki karakteristik dan kebutuhan yang berbeda. Karena itu, dukungan pemerintah harus dirancang berdasarkan kebutuhan, kondisi, dan tujuan pengembangan masing-masing lembaga, tanpa mengabaikan prinsip pemerataan serta akuntabilitas.

    Negara tidak boleh hanya menuntut santri menjadi generasi unggul, tetapi mengabaikan kondisi yang diperlukan untuk mencapai cita-cita tersebut. Santri tidak mungkin dipersiapkan menghadapi persaingan global apabila akses terhadap pendidikan bermutu, fasilitas pembelajaran, tenaga pendidik yang kompeten, dan teknologi masih belum merata.

    Keberpihakan terhadap santri harus terlihat dalam kebijakan, alokasi anggaran, perlindungan, dan kesempatan untuk maju. Ukurannya bukan seberapa meriah peringatan Hari Santri diselenggarakan, melainkan seberapa nyata perubahan yang dirasakan oleh santri dan lembaga pendidikan yang menaunginya.

    Indonesia Emas Dimulai dari Santri Hari Ini

    Indonesia Emas 2045 bukanlah cita-cita yang dapat dicapai secara instan. Generasi yang akan mengisi berbagai posisi strategis pada masa itu sedang menempuh pendidikan hari ini. Artinya, kualitas pendidikan yang diberikan sekarang akan turut menentukan wajah Indonesia pada masa mendatang.

    Pages: 1 2 3 4
      Ikuti kami di Facebook