
“Kami sangat mengapresiasi inisiatif Kementerian HAM Babel hadir di tengah kami. Selama ini, banyak yang mengira pemahaman tentang hak asasi manusia itu hal yang terpisah dari ajaran agama. Padahal justru sebaliknya, agama Islam sangat menjunjung tinggi hak-hak manusia,” ujar Sukaryadi.
Ia berharap kegiatan tersebut menjadi bekal bagi para santri untuk tumbuh sebagai generasi yang tidak hanya cerdas secara agama, tetapi juga mampu menghormati hak sesama.
Syamsudin M. menjelaskan, pesantren sengaja menjadi sasaran sosialisasi karena memiliki peran strategis dalam membentuk karakter generasi muda.
Melalui program FAHAMIN yang mengusung tema “Generasi Qur’ani Sadar Hak Asasi Manusia, untuk Indonesia yang Luhur Berkeadilan”, pihaknya ingin menanamkan pemahaman bahwa nilai agama dan HAM dapat berjalan beriringan.
“Kami ingin menegaskan pesan penting hari ini: nilai-nilai hak asasi manusia dan nilai-nilai keagamaan itu saling melengkapi, bukan saling bertentangan. Agama mengajarkan kita untuk berbuat baik, menghormati sesama manusia, tidak menindas, dan memperlakukan orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan,” jelas Syamsudin.
Ia juga mengingatkan bahwa memahami HAM tidak cukup hanya dengan mengetahui dan menuntut hak pribadi. Setiap orang memiliki tanggung jawab untuk memastikan tindakannya tidak merampas atau melanggar hak orang lain.
“HAM bukan sekadar menuntut hak, tetapi juga menjalankan kewajiban agar hak orang lain tidak terlanggar oleh kita,” tambahnya.
Suasana kegiatan semakin interaktif saat memasuki sesi tanya jawab dan kuis. Para santri tampak antusias menjawab pertanyaan maupun menyampaikan pandangan secara langsung.