Gas Natuna Dialirkan ke Singapura, Warganya Masih Pakai Minyak Tanah

    Caption: Cen Sui Lan saat menyalami warganya.

    “Solusi berikutnya tentunya mungkin juga bisa dipikirkan bagaimana aktivasi kawasan ekonomi khusus dan investasi migas di sini juga bisa terus kita kawal,” kata Edhie.

    Ia menilai peluang pengembangan ekonomi tidak hanya terdapat di Natuna, tetapi juga di wilayah lain yang memiliki potensi sumber daya.

    “Karena tadi peluangnya, potensinya besar, bahkan tidak hanya di Natuna, tapi yang lain sebagainya itu masih punya peluang untuk dieksplorasi, dieksploitasi. Dan hasilnya pun kembali kepada Natuna.”

    Pernyataan tersebut menempatkan persoalan LPG masyarakat dalam konteks yang lebih besar: pengelolaan potensi ekonomi Natuna dan bagaimana manfaatnya dirasakan masyarakat.

    Jangan Sampai Daerah Penghasil Justru Menjadi Penonton

    Persoalan yang disampaikan Bupati Natuna pada akhirnya tidak berhenti pada jenis bahan bakar yang digunakan masyarakat.

    Minyak tanah yang masih digunakan sebagian warga menjadi simbol dari kesenjangan akses energi yang dipersoalkan pemerintah daerah.

    Di tengah potensi migas dan posisi strategis Natuna, masyarakat masih harus berhadapan dengan keterbatasan akses terhadap LPG bersubsidi.

    Pemerintah pusat kini menghadapi dua pekerjaan sekaligus: memastikan kebijakan energi nasional tetap tepat sasaran dan memastikan daerah perbatasan memperoleh akses energi yang memadai.

    Sebab bagi Natuna, persoalannya bukan hanya ada atau tidak ada gas.

    Persoalannya adalah ketika gas dari wilayah mereka mengalir ke luar negeri, apakah masyarakat yang tinggal di atas dan di sekitar wilayah sumber daya tersebut sudah merasakan manfaatnya dalam kebutuhan sehari-hari?

    Pertanyaan itulah yang kini dilemparkan pemerintah Kabupaten Natuna kepada pemerintah pusat.

    Pages: 1 2 3Show All
      Ikuti kami di Facebook