
INTRIK.ID, NATUNA – Kabupaten Natuna berada di kawasan yang dikenal memiliki potensi migas besar. Namun, di tengah aktivitas migas yang hasil gasnya disebut dialirkan hingga ke Singapura, sebagian masyarakat Natuna justru masih mengandalkan minyak tanah untuk memasak.
Kondisi tersebut disampaikan Bupati Natuna Cen Sui Lan saat menyampaikan persoalan kebutuhan energi masyarakat kepada pimpinan MPR RI.
Cen mengungkapkan, masyarakat Natuna belum mendapatkan akses LPG 3 kilogram bersubsidi seperti masyarakat di banyak daerah lain di Indonesia.
“Kami ini penyumbang migas, salah satu migas terbesar. Di bawah laut kami itu ada gas yang dialirkan ke Singapura. Tapi sejak kami pemekaran sampai sekarang, Pak Ketua, kami masih memakai minyak tanah,” kata Cen.
Menurut Cen, pemerintah daerah telah mengupayakan peralihan penggunaan minyak tanah ke LPG 3 kilogram bersubsidi. Namun, usulan tersebut belum terealisasi karena terbentur persoalan anggaran subsidi.
Ia mengatakan usulan peralihan tersebut telah diajukan melalui kementerian terkait hingga Kementerian Keuangan.
“Kementerian Keuangan menolak karena tidak ada dana untuk pengalihan karena itu kan subsidi,” ujarnya.
Persoalan yang disampaikan Cen menjadi ironi tersendiri bagi daerah yang selama ini dikenal memiliki potensi sumber daya migas.
Di satu sisi, Natuna memiliki cadangan dan aktivitas eksplorasi migas. Di sisi lain, menurut pemerintah daerah, kebutuhan energi rumah tangga masyarakat belum sepenuhnya beralih ke LPG.
“Nah, kami ini penyumbang loh, Pak Ketua. Masa mau pakai minyak tanah terus?” kata Cen.
Ia menggambarkan kondisi masyarakat yang masih menggunakan kompor minyak tanah sebagai persoalan yang tidak hanya menyangkut ketersediaan energi, tetapi juga akses masyarakat terhadap manfaat sumber daya alam di daerahnya.